Skip to content

perkembangan individu

May 21, 2011

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perkembangan adalah perubahan pada individu yang berawal pada masa konsepsi dan terus berlanjut sepanjang hayat, dan berlanjut secara sistematik, progresif dan berkesinambungan baik mengenai fisik maupun psikis.
Setiap individu dilahirkan ke dunia dengan membawa hereditas tertentu. Hal ini berarti bahwa karakteristik individu diperoleh melalui pewarisan dari orangtuanya. Karakteristik tersebut menyangkut fisik (seperti struktur tubuh, warna kulit, dan bentuk rambur) dan psikis atau sifat mental (seperti emosi dan kecerdasan).
Hereditas merupakan aspek bawaan dan memiliki potensi untuk berkembang. Seberapa jauh perkembangan individu itu terjadi dan bagaimana kualitas perkembangannya, bergantung kepada kualitas hereditas dan lingkungan yang mempengaruhinya. Lingkungan merupakan factor penting disamping hereditas yang menentukan perkembangan individu. Untuk mencapai perkembangan yang baik harus ada asuhan terarah, asuhan dalam perkembangan dengan melalui proses belajar sering disebut pendidikan. Pendidikan sebagai salah satu bentuk lingkungan, bertanggung jawab dalam memberikan asuhan terhadap proses perkembangan. Jadi, factor yang mempengaruhi perkembangan yaitu, factor hereditas, lingkungan baik itu keluarga, sekolah, masyarakat maupun alam sekitar.
Dilihat dari perkembangan individu ternyata masing-masing individu itu memiliki perbedaan. Keunikan individu mengandung arti bahwa tidak ada dua orang individu yang sama persis di dalam aspek-aspek pribadinya, baik aspek jasmaniah maupun rohaniah. Individu yang satu berbeda dengan individu yang lainnya. Timbulnya perbedaan individu ini dapat dikembalikan kepada faktor pembawaan dan lingkungan sebagai komponen utama bagi terbentuknya keunikan individu. Perbedaan pembawaan akan memungkinkan perbedaan individu, meskipun dengan lingkungan yang sama. Sebaliknya lingkungan yang berbeda akan memungkinkan timbulnya perbedaan individu, meskipun pembawaannya sama.
Pada dasarnya tiap individu merupakan satu kesatuan, yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Perbedaan itu dapat dilihat dari dua segi, yakni horizontal dan vertical. Perbedaan segi horizontal adalah perbedaan individu dalam aspek mental, seperti tingkat kesadaran, bakat, minat, ingatan, emosi, dan sebagainya. Perbedaan vertikal adalah perbedaan individu dalam aspek jasmaniah, seperti: bentuk, tinggi dan besarnya badan, tenaga, dan sebagainya. Masing-masing aspek individu tersebut besar pengaruhnya terhadap kegiatan dan keberhasilan belajar.
Perbedaan individual disebabkan oleh dua faktor, ialah faktor keturunan atau bawaan kelahiran, dan faktor pengaruh lingkungan. Kedua faktor ini memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan dan perkembangan individu. Mungkin salah satu factor ada yang lebih dominan, namun tetap kedua faktor tersebut masing-masing berpengaruh, dan pada nyatanya tidak ada dua individu yang sama.
Jenis-jenis Perkembangan/ Perbedaan individual
Perbedaan individual menyangkut dengan berbagai aspek yang masing-masing memilki ciri-ciri tertentu;
1. Kecerdasan, siswa yang kurang cerdas menunjukkan ciri-ciri belajar lebih lamban, memerlukan banyak latihan, membutuhkan waktu yang lebih lama untuk maju, tidak mampu melakukan abstraksi. Siswa yang memiliki tingkat kecerdasan yang tinggi pada umumnya memilki perhatian yang lebih baik, belajar lebih cepat, kurang memerlukan latihan, mampu menyelesaikan pekerjaannya dalam waktu yang singkat, mampu menarik kesimpulan dan melakukan abstraksi;
2. Bakat (aptitude), bakat mempengaruhi perkembangan individu. Untuk mengetahui bakat itu perlu diadakan tes bakat (aptitude test) pada waktu mereka mulai bersekolah. Bakat turut menentukan perbedaan hasil belajar, sikap, minat, dan lain-lain;
3. Keadaan Jasmani, keadaan jasmani tiap siswa berbeda-beda. Perbedaan itu terdapat pada struktur badan (tinggi, berat, dan koordinasi anggota badan), cacat badan (gangguan pada penglihatan, sakit menahun, mudah pusing kepala, dan lain-lain), gangguan penyakit tertentu. Hal-hal tersebut dapat mempengaruhi efisiensi dan kegairahan belajar, mudah lelah, kurang berminat melakukan berbagai kegiatan, dan akan mempengaruhi hasil belajar;
4. Penyesuaian Sosial dan Emosional, keadaan sosial dan emosi individu berbeda antara satu dengan yang lainnya. Berbagai sikap sosial dan emosional, adalah pendiam, pemberang, pemalu, pemberani, mudah bereaksi, senang bekerjasama, suka mengasingkan diri, mudah terpengaruh, sensitif, sedang menggatungkan diri kepada orang lain. Tingkah laku sosial dan emosional ini dapat berubah sesuai dengan kondisi dan situasi sekitarnya. Keadaan ini besar pengaruhnya terhadap kegiatan dan keberhasilan belajar siswa;
5. Keadaan Keluarga, keadaan keluarga besar pengaruhnya terhadap individu, dan oleh karenanya terjadi perbedaan individual yang dilaterbelakangi perbedaan keadaan keluarga. Pengaruhnya terjadi pada perbedaan dalam hal-hal pengalaman sikap, apresiasi, minat, sikap ekonomis, cara berkomunikasi, kebiasaan berbicara, hubungan kerjasama, pola pikir, dan lain-lain. Perbedaan dalam hal-hal tersebut mempengaruhi tingkah laku dan perubahan belajar sekolah;
6. Prestasi Belajar, perbedaan hasil belajar di kalangan para siswa disebabkan oleh faktor-faktor kematangan, latar belakang pribadi, sikap dan bakat terhadap pelajaran, jenis mata ajaran yang diberikan, dan sebagainya.
7. Bahasa, perbedaan individual dalam perkembangan bahasa tidak hanya pada banyaknya penguasaan kosakata melainkan juga dalam arah, bentuk, atau pola perkembangan bahasa.
8. Kepribadian, setiap individu pasti memiliki kepribadian yang berbeda satu sama lainnya, pengaruh-pengaruh internal dan eksternal yang mencakup factor-faktor genetic atau biologis, pengalaman-pengalaman social, dan perubahan lingkungan. Atau dengan kata lain, corak dan keunikan kepribadian individu itu dipengaruhi oleh factor-faktor bawaan dan lingkungan.
B. Rumusan Masalah
 Bagaimanakah Perkembangan/perbedaan bahasa individu?
 Bagaimanakah Perkembangan/perbedaan emosi individu?
 Bagaimanakah Perkembang/perbedaan kepribadian individu?
BAB II
PEMBAHASAN

A. Perkembangan Bahasa Individu
Bahasa erat kaitannya dengan kognisi pada manusia, dinyatakan bahwa bahasa adalah fungsi kognisi tertinggi dan tidak dimiliki oleh hewan. Ilmu yang mengkaji bahasa ini disebut sebagai linguistik. Bahasa merupakan suatu alat atau cara yang digunakan untuk menyampaikan konsep riil seseorang ke dalam pikiran orang lain.
Perkembangan merupakan suatu perubahan yang berlangsung seumur hidup dengan bertambahnya struktur dan fungsi tubuh yang lebih kompleks dalam kemampuan gerak kasar, gerak halus, bicara dan bahasa serta sosialisasi dan kemandirian. Ciri-ciri pertumbuhan dan perkembangan anak antara lain, menimbulkan perubahan, berkolerasi dengan pertumbuhan, memiliki tahap yang berurutan dan mempunyai pola yang tetap.
Perkembangan berbicara dan menulis merupakan suatu proses yang menggunakan bahasa ekspresif dalam membentuk arti.
Perkembangan berbicara pada awal dari anak yaitu menggumam maupun membeo. Menurut pendapat Dyson bahwa perkembangan berbicara terkadang individu dapat menyesuaikan dengan keinginannya sendiri, hal ini tidak sama dengan menulis.
Seorang bayi dari hari ke hari akan mengalami perkembangan bahasa dan kemampuan bicara, namun tentunya tiap anak tidak sama persis pencapaiannya, ada yang cepat berbicara ada pula yang membutuhkan waktu agak lama. Untuk membantu perkembangannya ibunya dapat membantu memberikan stimulasi yang disesuaikan dengan keunikan masing-masing anak.

Terdapat perbedaan yang signifikan antara pengertian bahasa dan berbicara. Bahasa mencakup segala bentuk komunikasi, baik yang diutarakan dalam bentuk lisan, tulisan, bahasa isyarat, bahasa gerak tubuh, ekspresi wajah pantomim atau seni. Sedangkan bicara adalah bahasa lisan yang merupakan bentuk yang paling efektif untuk berkomunikasi, dan paling penting serta paling banyak dipergunakan.
Perkembangan bahasa tersebut selalu meningkat sesuai dengan meningkatnya usia anak. Orang tua sebaiknya selalu memperhatikan perkernbangan tersebtit, sebab pada masa ini, sangat menentukan proses belajar. Hal ini dapat dilakukan dengan memberi contoh yang baik, memberikan motivasi pada anak untuk belajar dan sebagainya.

Adapun tahap-tahap dari perkembangan bahasa yaitu :
Tahap perkembangan bahasa berbicara anak secara umum
Perkembangan bahasa terbagi atas dua periode besar, yaitu: periode Prelinguistik (0-1 tahun) dan Linguistik (1-5 tahun). Mulai periode linguistik inilah mulai hasrat anak mengucapkan kata-kata yang pertama, yang merupakan saat paling menakjubkan bagi orang tua. Periode linguistik terbagi dalam tiga fase besar, yaitu:

1. Fase satu kata atau Holofrase

Pada fase ini anak mempergunakan satu kata untuk menyatakan pikiran yang kornpleks, baik yang bcrupa keinginan, perasaan atau temuannya tanpa pcrbedaan yang jelas. Misalnya kata duduk, bag: anak dapat berarti “saya mau duduk”, atau kursi tempat duduk, dapat juga berarti “mama sedang duduk”. Orang tua baru dapat mengerti dan memahami apa yang dimaksudkan oleh anak tersebut, apabila kiia tahu dalam konteks apa kata tersrbut diucapkan, sambil mcngamati mimik (ruut muka) gerak serta bahasa tubuh lainnya. Pada umumnya kata pertama yang diurapkan oleh anak adalah kata benda, setelah beberapa waktu barulah disusul dengan kata kerja.

2. Fase lebih dari satu kata

Fase dua kata muncul pada anak berusia sekkar 18 bulan. Pada fase ini anak sudah dapat membuat kalimat sederhana yang terdiri dari dua kata. Kalimat tersebut kadang-kadang terdiri dari pokok kalimat dan predikat, kadang-kadang pokok kalimat dengan obyek dengan tata bahasa yang tidak benar. Setelah dua kata, muncullah kalimat dengan tiga kata, diikuti oleh empat kata dan seterusnya. Pada periode ini bahasa yang digunakan oleh anak tidak lagi egosentris, dari dan uniuk dirinya sendiri. Mulailah mengadakan komunikasi dengan orang lain secara lancar. Orang tua mulai melakukan tanya jawab dengan anak secara sederhana. Anak pun mulai dapat bercerita dengan kalimat-kalimatnya sendiri yang sederhana.

3. Fase ketiga adalah fase diferensiasi

Periode terakhir dari masa balita yang bcrlangsung antara usia dua setengah sampai lima tahun. Keterampilan anak dalam berbicara mulai lancar dan berkembang pesat. Dalam berbicara anak bukan saja menambah kosakatanya yang mengagumkan akan tetapi anak mulai mampu mengucapkan kata demi kata sesuai dengan jenisnya, terutama dalam pemakaian kata benda dan kata kerja. Anak telah mampu mempergunakan kata ganti orang “saya” untuk menyebut dirinya, mampu mempergunakan kata dalam bentuk jamak, awalan, akhiran dan berkomunikasi lebih lancar lagi dengan lingkungan. Anak mulai dapat mengkritik, bertanya, menjawab, memerintah, memberitahu dan bentuk-bentuk kalimat lain yang umum untuk satu pembicaraan “ gaya ” dewasa.
Menurut Vygostky menjelaskan ada 3 tahap perkembangan bicara pada anak yang berhubungan erat dengan perkembangan berpikir anak yaitu :
1. Tahap eksternal
Yaitu terjadi ketika anak berbicara secara eksternal dimana sumber berpikir berasal dari luar diri anak yang memberikan pengarahan, informasi dan melakukan suatu tanggung jawab dengan anak.
2. Tahap egosentris
Yaitu dimana anak berbicara sesuai dengan jalan pikirannya dan dari pola bicara orang dewasa.
3.Tahap Internal
Yaitu dimana dalam proses berpikir anak telah memiliki suatu penghayatan kemampuan berbicara sepenuhnya

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa
Secara rinci dapat diidentifikasi sejumlah faktor yang mempengaruhi perkembangan bahasa, yaitu:

a. Kognisi (Proses Memperoleh Pengetahuan)

Tinggi rendahnya kemampuan kognisi individu akan mempengaruhi cepat lambatnya perkembangan bahasa individu. Ini relevan dengan pembahasan sebelumnya bahwa terdapat korelasi yang signifikan antara pikiran dengan bahasa seseorang.

b. Pola Komunikasi Dalam Keluarga.

Dalam suatu keluarga yang pola komunikasinya banyak arah akan mempercepat perkembangan bahasa keluarganya.

c. Jumlah Anak Atau Jumlah Keluarga

Suatu keluarga yang memiliki banyak anggota keluarga, perkembangan bahasa anak lebih cepat, karena terjadi komunikasi yang bervariasi dibandingkan dengan yang hanya memiliki anak tunggal dan tidak ada anggota lain selain keluarga inti.

d. Posisi Urutan Kelahiran

Perkembangan bahasa anak yang posisi kelahirannya di tengah akan lebih cepat ketimbang anak sulung atau anak bungsu. Hal ini disebabkan anak sulung memiliki arah komunikasi ke bawah saja dan anak bungsu hanya memiliki arah komunikasi ke atas saja.

e. Kedwibahasaan (Pemakaian dua bahasa)

Anak yang dibesarkan dalam keluarga yang menggunakan bahasa lebih dari satu atau lebih bagus dan lebih cepat perkembangan bahasanya ketimbang yang hanya menggunakan satu bahasa saja karena anak terbiasa menggunakan bahasa secara bervariasi. Misalnya, di dalam rumah dia menggunakan bahasa sunda dan di luar rumah dia menggunakan bahasa Indonesia.
Perkembangan penguasaan bahasa secara kuat terutama dipengaruhi oleh kematangan genetikal. Artinya, mereka berkeyakinan bahwa kematangan secara genetikal akan sangat menentukan kompetensi berbahasa seseorang (Golfield dan Snow, 1985; Wells, 1986). Jadi, Perkembangan bahasa dipengaruhi oleh faktor-faktor bawaan dan lingkungan.
Perkembangan Bahasa pada Anak Autis
Keluhan utama dari orang tua yang memiliki anak dengan ciri-ciri autistik adalah keterlambatan bicara atau bahkan belum bicara sama sekali. Banyak orang tua beranggapan jika anaknya bisa bicara maka 99% masalah anak akan terselesaikan. Ginanjar (Tanpa Nama, 2002) mengemukakan bahwa hal yang lebih penting adalah pemahaman anak terhadap bahasa dan kemampuan untuk berkomunikasi secara dua arah. Banyak anak autis yang mampu bicara, namun sebenarnya belum mampu memiliki pemahaman yang baik tentang apa yang mereka ucapkan dan diucapkan oleh orang lain. Tidak jarang anak autis yang bisa lancar mendeskripsikan sesuatu, menghapal lagu, meniru jingle iklan, membaca dengan baik, namun gagal ketika diajak tanya jawab mengenai kejadian sehari-hari. Sehingga, anak autis yang dapat berbicara belum tentu memiliki pemahaman bahasa yang baik serta dapat berbicara dengan benar.

Sebagian anak autis tidak dapat berkomunikasi baik dengan verbal maupun nonverbal. Biasanya mereka tidak dapat mengkomunikasikan perasaan maupun keinginan, sukar memahami kata-kata atau bahasa orang lain, sebaliknya kata-kata mereka sukar dipahami maknanya, berbicara sangat lambat, berbicara bukan untuk berkomunikasi, suka bergumam, dapat menghapal kata-kata atau nyanyian tanpa mengenali arti dan konteksnya, perkembangan bahasa sangat lambat bahkan sering tidak tampak dan komunikasi terkadang dilakukan dengan cara menarik-narik tangan orang lain untuk menyampaikan keinginannya.

B. Perkembangan Emosi Individu
Emosi merupakan reaksi subyektif yang diekpresikan seseorang dan biasanya diasosiasikan atau berhubungan dengan perubahan fisiologis dan tingkah laku. Emosi adalah perasaan intens yang ditujukan kepada seseorang atau sesuatu. Emosi adalah reaksi terhadap seseorang atau kejadian. Emosi dapat ditunjukkan ketika merasa senang mengenai sesuatu, marah kepada seseorang, ataupun takut terhadap sesuatu.
Kebanyakan ahli yakin bahwa emosi lebih cepat berlalu daripada suasana hati. Sebagai contoh, bila seseorang bersikap kasar, seseorang akan merasa marah. Perasaan intens kemarahan tersebut mungkin datang dan pergi dengan cukup cepat tetapi ketika sedang dalam suasana hati yang buruk, seseorang dapat merasa tidak enak untuk beberapa jam.

Sumber emosi dan Pola respon
 Takut, sumbernya bisa saja seperti ruangan yang gelap, ketinggian, binatang, setan, kematian, bisa pula ejekan/ cemooh.
 Marah, sumbernya seperti diabaikan orang lain/ orang tua, sindiran/olok-olok, ancaman yang menyangkut harga diri.
 Cemburu, sumbernya seperti datangnya anggota keluarga yang baru (adik bayi), terhadap teman yang berhasil, dsb.
 Bahagia, sumbernya bersifat psikologis seperti dekat dengan orang yang disayangi, prestasi baik, berhasil dalam sosialisasi. Dan yang bersifat non-psikologis seperti berlari, bernyanyi, bermain.
 Rasa ingin tahu, sumbernya seperti sesuatu yang baru, asing, dan tidak biasa sifatnya, istimewa, dsb.
 Frustasi, sumbernya seperti ketidakmampuan mencapai sesuatu yang sesuai harapan, antara lain kegagalan, tidak terpenuhi kebutuhan.
 Sedih/ Duka cita, sumbernya seperti kehilangan sesuatu yang dikasihi, orang yang disayangi, gagal dalam mencapai sesuatu, dsb.
Karakteristik emosi pada anak mencakup :
a. Berlangsung singkat dan berakhir tiba-tiba
b. Terlihat lebih hebat atau kuat
c. Bersifat sementara atau dangkal.
d. Lebih sering terjadi
e. Dapat diketahui dengan jelas dari tingkah lakunya.
f. Reaksi mencerminkan individualitas
Perkembangan emosi pada anak sebenarnya sulit diukur. Variasi emosi pada anak juga banyak. Variasi ini sangat bergantung dengan kondisi lingkungan anak, jadi emosi itu menentukan respon apa yang diberikan pada lingkungannya. Emosi ini juga kebutuhan, jadi anak perlu untuk memperlihatkan emosinya, bisa dikatakan terpenuhi kebutuhan emosinya jika emosi yang dikeluarkan dapat dikendalikan dengan baik.
Perkembangan emosi pada remaja
Ditandai dengan emosi yang tidak stabil dan penuh gejolak. Pada masa ini mood (suasana hati) bisa berubah dengan sangat cepat. Hasil penelitian di Chicago oleh Mihalyi dan Reed Larson (1984) menemukan bahwa remaja rata-rata memerlukan hanya 45 menit untuk berubah dari mood “senang luar biasa” ke “sedih luar biasa”, sementara orang dewasa memerlukan beberapa jam untuk hal yang sama. Perubahan emosi ini erat kaitannya dengan kemasakan hormon yang terjadi pada remaja. Stres emosional yang timbul berasal dari perubahan fisik yang cepat dan luas yang terjadi sewaktu pubertas.
Setiap orang menampilkan reaksi emosi yang berbeda, baik dari segi bagaimana mereka merasakannya, peristiwa apa yang menjadi pencetusnya, dan bagaimana manifestasi fisik yang ditunjukkan, serta apa yang mereka lakukan.
Perbedaan emosi ini antara lain dipengaruhi oleh budaya, sebab budaya akan mempengaruhi bagaimana seseorang merasakan suatu situasi tertentu dan bagaimana mereka memperlihatkan perasaannya. Disamping itu, kondisi yang mempengaruhi perkembangan emosi menurut Elizabeth Hurlock yaitu :
1. Peran Pematangan
Perkembangan kelenjar endokrin penting untuk mematangkan perilaku emosional. Bayi secara relatif kekurangan produksi endokrin yang diperlukan untuk menopang reaksi fisiologis terhadap stres. Kelenjar adrenalin memainkan peran utama dalam emosi yang mengecil secara tajam ketika bayi baru lahir. Tidak lama kemudian kelenjar itu mulai membesar lagi, dan membesar dengan pesat saat anak berusia 5 tahun. Pembesarannya melambat pada usia 5 sampai 11 tahun, dan membesar leih pesat lagi sampai anak berusia 16 tahun. Pada usia 16 tahun kelenjar tersebut kembali keukuran semula seperti pada saat anak lahir. Hanya sedikit adrenalin yang diproduksi dan dikeluarkan sampai saat kelenjar itu membesar. Pengaruhnya penting terhadap keadaan emosional pada masa kanak-kanak.
2. Peran Belajar
Lima jenis kegiatan belajar turut menunjang pola perkembangan emosi pada masa kanak-kanak. Terlepas dari metode yang digunakan, dari segi perkembangan anak harus siap untuk belajar sebelum tiba saatnya masa belajar. Sebagai contoh, bayi yang baru lahir tidak mampu mengekspresikan kemarahan kecuali dengan menangis. Dengan adanya pematangan system saraf dan otot, anak-anak mengembangkan potensi untuk berbagai macam reaksi. Pengalaman belajar mereka akan menentukan reaksi potensial mana yang akan mereka gunakan untuk menyatakan kemarahan.

C. Perkembangan Kepribadian Individu

Kepribadian adalah suatu organisasi yang dinamis dari sistem psiko-fisik indvidu yang menentukan tingkah laku dan pemikiran indvidu secara khas. Terjadinya Interaksi psiko-fisik mengarahkan tingkah laku manusia. Maksud dinamis pada pengertian tersebut adalah perilaku mungkin saja berubah-ubah melalui proses pembelajaran atau melalui pengalaman-pengalaman, reward, punishment, pendidikan, dsb. Perkembangan kepribadian tersebut bersifat dinamis, artinya selama individu masih bertambah pengetahuan nya dan mau belajar serta menambah pengalaman dan keterampilan, mereka akan semakin matang dan mantap kepribadiannya.
Kepribadian adalah ciri, karakteristik, gaya atau sifat-sifat yang memang khas dikaitkan dengan diri kita. Dapat dikatakan bahwa kepribadian itu bersumber dari bentukan-bentukan yang kita terima dari lingkungan, misalnya bentukan dari keluarga pada masa kecil kita dan juga bawaan-bawaan yang dibawa sejak lahir. Jadi yang disebut kepribadian itu sebetulnya adalah campuran dari hal-hal yang bersifat psikologis, kejiwaan dan juga yang bersifat fisik, yaitu keseluruhan cara di mana seorang individu bereaksi dan berinteraksi dengan individu lain.

Kepribadian (personality) bukan sebagai bakat kodrati, melainkan terbentuk oleh proses sosialisasi. Kepribadian merupakan kecenderungan psikologis seseorang untuk melakukan tingkah laku sosial tertentu, baik berupa perasaan, berpikir, bersikap, dan berkehendak maupun perbuatan.
Tahap perkembangan kepribadian menurut freud, yaitu :
1. Fase Oral (usia 0 – 1 tahun)
Pada fase ini mulut merupakan daerah pokok aktivitas dinamik atau daerah kepuasan seksual yang dipilih oleh insting seksual. Makan/minum menjadi sumber kenikmatannya. Kenikmatan atau kepuasan diperoleh dari ransangan terhadap bibir-rongga mulut-kerongkongan, tingkah laku menggigit dan menguyah (sesudah gigi tumbuh), serta menelan dan memuntahkan makanan (kalau makanan tidak memuaskan). Kenikmatan yang diperoleh dari aktivitas menyuap/menelan (oral incorforation) dan menggigit (oral agression) dipandang sebagai prototip dari bermacam sifat pada masa yang akan datang. Kepuasan yang berlebihan pada masa oral akan membentuk oran incorporation personality pada masa dewasa, yakni orang menjadi senang/fiksasi mengumpulkan pengetahuan atau mengumpulkan harta benda, atau gampang ditipu (mudah menelan perkataan orang lain0. Sebaliknya, ketidakpuasan pada fase oral, sesudah dwasa orang menjadi tidak pernah puas, tamak (memakan apa saja) dalam mengumpulkan harta. Oral agression personality ditandai oleh kesenangan berdebat dan sikap sarkatik, bersumber dari sikap protes bayi (menggigit) terhadap perlakuan ibunya dalam menyusui. Mulut sebagai daerah erogen, terbawa sampai dewasa dalam bentuk yang lebih bervariasi, mulai dari menguyah permen karet, menggigit pensil, senang makan, menisap rokok, menggunjing orang lain, sampai berkata-kata kotor/sarkastik. Tahap ini secara khusus ditandai oleh berkembangnya perasaan ketergantungan, mendapat perindungan dari orang lain, khususnya ibu. Perasaan tergantung ini pada tingkat tertentu tetap ada dalam diri setiap orang, muncul kapan saja ketika orang merasa cemas dan tidak aman pada masa yang akan datang.
2. Fase Anal (usia 1 – 3 tahun)
Pada fase ini dubur/anus merupakan daerah pokok ktivitas dinamik, kateksis dan anti kateksis berpusat pada fungsi eliminer (pembuangankotoran). Mengeluarkan faces menghilangkan perasaan tekanan yang tidak menyenangkan dari akumulasi sisa makanan. Sepanjang tahap anal, ltihan defakasi (toilet training) memaksa nak untuk belajar menunda kepuasan bebas dari tegangan anal. Freud yakin toilet training adalah bentuk mulaidari belajar memuaskan id dan superego sekaligus, kebutuhan id dalam bentuk kenikmatan sesudah defakasi dan kebutuhan superego dalam bentuk hambatan sosial atau tuntutan sosial untuk mengontrol kebutuhan defakasi. Semua hambatan bentuk kontrol diri (self control) dan penguasaan diri (self mastery).
Berasal dari fase anal, dampak toilet training terhadap kepribadian di masa depan tergantung kepada sikap dan metode orang tua dalam melatih. Misalnya, jika ibu terlalu keras, anak akan menahan facesnya dan mengalami sembelit. Ini adalah prototip tingkahlaku keras kepala dan kikir (anal retentiveness personality). Sebaliknya ibu yang membiarkan anak tanpa toilet training, akan membuat anak bebas melampiaskan tegangannya dengan mengelurkan kotoran di tempat dan waktu yang tidak tepat, yang di masa mendatang muncul sebagai sifat ketidakteraturan/jorok, deskruktif, semaunya sendiri, atau kekerasa/kekejaman (anal exspulsiveness personality). Apabila ibu bersifat membimbing dengan kasih sayang (dan pujian kalau anak defakasi secara teratur), anak mendapat pengertian bahwa mengeluarkan faces adalah aktivitas yang penting, prototif dari, sifat kreatif dan produktif.
3. Fase Fhalik (usia 3 – 5/6 tahun)
Pada fase ini alat kelamin merupakan daerah erogen terpenting. Mastrubasi menimbulkan kenikmatan yang besar. Pada saat yang sama terjadi peningkatan gairah seksual anak kepada orang tuanya yang mengawali berbagai perganian kateksis obyek yang penting. Perkembangan terpenting pada masa ini adalah timbulnya Oedipus complex, yang diikuti fenomena castration anxiey (pada laki-laki) dan penis envy (pada perempuan).
Odipus kompleks adalah kateksis obyek kepada orang tua yang berlawanan jenis serta permusuhan terhadap orang tua sejenis. Anak laki-laki ingin memiliki ibunya dan menyingkirkan ayahnya; sebaliknya anak perempuan ingin memilki ayahnya dan menyingkirkan ibunya.
4. Fase Latent (usia 5/6 – 12/13 tahun)
Dari usia 5 atau 6 tahun sampai remaja, anak mengalami periode perbedaan impuls seksual, disebut periode laten. Menurut Freud, penurunan minat seksual itu akibat dari tidak adanya daerah erogen baru yang dimunculkan oleh perkembangan biologis. Jadi fase laten lebih sebagai fenomena biologis, alih-lih bgian dari perkembangan psikoseksual. Pada fase laten ini anak mengembangkan kemampuan sublimasi, yakni mengganti kepuasan libido dengan kepuasan nonseksual, khususnya bidang intelektual, atletik, keterampilan dan hubungan teman sebaya. Fase laten juga ditandai dengan percepatan pembentukan super ego; orang tua bekerjasama dengan anak berusaha merepres impuls seks agar energi dapat dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk sublimasi dan pembentukan superego. Anak menadi lebih mudah mmpelajari sesuatu dibandingkan dengan masa sebelum dan sesudahnya (masa pubertas).
5. Fase Genital (usia 12/13 – dewasa)
Fase ini dimulai dengan perubahan biokimia dan fisiologi dalam diri remaja. Sistem endoktrin memproduksi hormon-hormon yang memicu pertumbuhan tanda-tanda seksual sekunder (suara, rambut, buah dada, dll) dan pertumbuhan tanda seksual primer. Impuls pregenital bangun kembali dan membawa aktivitas dinamis yang harus diadaptasi, untuk mencapai perkembangan kepribadian yang stabl. Pada fase falis, kateksis genital mempunyai sifat narkistik; individu mempunyai kepuasan dari perangsangan dan manipulasi tubuhnya sendiri, dan orang lain diingkan hanya karena memberikan bentuk-bentuk tambahan dari kenikmatan jasmaniah. Pada fase genital, impuls seks itu mulai disalurkan ke obyek di luar, seperti; berpartisipasi dalam kegiatan kelompok, menyiapkan karir, cinta lain jenis, perkawinan dan keluarga. Terjadi perubahan dari anak yang narkistik menjadi dewasa yang berorientasi sosial, realistik dan altruistik.
Ada 4 Tipe Kepribadian Manusia, yaitu :
1. Kepribadian Sanguinis

Kepribadian yang menarik, Suka bicara, Menghidupkan pesta, Rasa humor yang hebat, Ingatan kuat untuk warna, Memukau pendengar, Emosional dan demonstratif, antusias dan ekspresif. Periang dan penuh semangat, Penuh rasa ingin tahu, Baik di panggung, Lugu dan polos, Hidup di masa sekarang, Mudah diubah, Tulus, Kekanak-kanakan.

2. Kepribadian Melankolis
Mendalam dan penuh pikiran, Analitis, Serius dan tekun, Cenderung jenius, Berbakat dan kreatif, Artistik atau musikal, Filosofis dan puitis, Menghargai keindahan, Perasa terhadap orang lain, Suka berkorban, Penuh kesadaran, Idealis.
3. Kepribadian Koleris
Berbakat memimpin, Dinamis dan aktif, Sangat memerlukan perubahan, Harus memperbaiki kesalahan, Berkemauan kuat dan tegas, Tidak emosional bertindak, Tidak mudah patah semangat, Bebas dan mandiri, Memancarkan keyakinan, Bisa menjalankan apa saja.

4. Kepribadian Phlegmatis
Kepribadian rendah hati, Mudah bergaul dan santai, Diam, tenang dan mampu, Sabar, baik keseimbangannya, Hidup konsisten, Tenang tetapi cerdas, Simpatik dan baik hati, Menyembunyikan emosi, Bahagia menerima kehidupan, Serba guna.
Menurut Allport, faktor genetik dan lingkungan sama-sama berpengaruh dalam menentukan perilaku manusia. Bukan hanya faktor keturunan sendiri atau faktor lingkungan sendiri yang menentukan bagaimana kepribadian terbentuk, melainkan melalui pengaruh resiprokal faktor keturunan dan lingkungan yang memunculkan karakteristik kepribadian.
Faktor eksternal yang mempengaruhi perkembangan kepribadian manusia adalah :
1. Faktor Lingkungan
2. Faktor Trauma Masa Kecil
3. Faktor Agama dan Budaya
1. Faktor Lingkungan
Faktor yang paling dominan adalah pengaruh keluarga karena inilah faktor lingkungan pertama dan utama yang akan menentukan perkembangan kepribadian sekundernya. Seorang individu yang dibesarkan dalam keluarga otoriter yang kuat, di mana cara mengungkapkan sikap dan perilaku ditentukan semata-mata oleh satu atau kedua orangtuanya (atau sosok keluarga penting lainnya) akan berbeda dengan individu lainnya yang dibesarkan dengan penuh kebebasan.
2. Faktor Trauma Masa Kecil
Seseorang yang pernah mengalami kekecewaan akan sulit untuk menumbuhkan kembali rasa percayanya, entah itu percaya kepada orang lain ataupun kepada dirinya sendiri. Jika trauma masa kecilnya disebabkan oleh kedua orangtuanya, maka perkembangan kepribadiannya menjadi tidak sehat.
3. Faktor Agama dan Budaya
Faktor agama juga berperan dalam perkembangan kepribadian seseorang, karena di dalam agama terdapat aturan-aturan untuk menjadikan seseorang menjadi manusia yang lebih baik, dengan mengikuti atau memegang teguh ajaran agama, seseorang dapat membentuk kepribadiannya yang sesuai dengan ajaran agamanya. Misalnya, dalam agama diajarkan untuk menjadi manusia yang berakhlak mulia maka dalam kehidupan si orang tersebut berusaha untuk menjadi pribadi yang baik. Lain hal lagi dengan Faktor budaya, budaya juga mempengaruhi kepribadian ataupun karakter yang berbeda pada tiap-tiap individu. Misalnya, budaya orang Jawa khususnya Solo, lebih halus, lemah lembut dan mereka cenderung memiliki sikap yang sabar. Lain dengan orang Medan, mereka cenderung memiliki kepribadian yang cenderung keras, memegang teguh prinsipnya. Meskipun setiap orang dari budaya manapun pasti memegang teguh prinsipnya.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan

Setiap individu pasti memiliki perbedaan terhadap perkembangannya, ada yang lebih cepat perkembangannya dan adapula yang perkembangannya lambat atau lamban. Perkembangan individu dilihat dari segi bahasa, emosi, dan kepribadian sangatlah berbeda-beda. Perkembangan bahasa sangatlah penting artinya bagi setiap individu karena bahasa merupakan suatu alat atau cara yang digunakan untuk menyampaikan konsep riil seseorang ke dalam pikiran orang lain.
Perkembangan emosi pada tiap-tiap individu pun berbeda-beda, pada realita kehidupan emosi juga sangat berperan bagi diri pribadi individu untuk mewujudkan apa sebenarnya yang mereka rasakan. Emosi merupakan reaksi subyektif yang diekpresikan seseorang dan biasanya diasosiasikan atau berhubungan dengan perubahan fisiologis dan tingkah laku. Emosi adalah perasaan intens yang ditujukan kepada seseorang atau sesuatu. Emosi adalah reaksi terhadap seseorang atau kejadian. Emosi dapat ditunjukkan ketika merasa senang mengenai sesuatu, marah kepada seseorang, ataupun takut terhadap sesuatu.
Kepribadian seseorang pun dapat berbeda pula karena di pengaruhi oleh faktor genetik/bawaan, lingkungan, rasa trauma, ataupun agama dan budaya individu tersebut. Kepribadian meliputi segala corak perilaku manusia yang digunakan untuk beraksi serta menyesuaikan dirinya terhadap segala rangsang, baik yang datang dari lingkungannya (dunia luar), maupun yang berasal dari dirinya sendiri (dunia dalam). Sehingga corak perilakunya itu merupakan suatu kesatuan fungsional yang khas bagi individu tersebut.

DAFTAR PUSTAKA
http://wapannuri.com/a.karakter/perkembangan_kepribadian_manusia.html

http://www.elmubarok.co.cc/2010/01/4-kepribadian-manusia.html

http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php/kepribadian.html

http://aldoranuary26.blog.fisip.uns.ac.id/2010/12/22/definisi-kepribadian/

http://agrissusanto.blogspot.com/2010/08/perbedaan-teori-perkembangan.html

http://arfinurul.blog.uns.ac.id/2010/05/10/perkembangan-emosi-pada-remaja/

http://silmya.wordpress.com/2010/11/03/perkembangan-emosi-anak/
Alwisol .2004. Psikologi Kepribadian. Malang : UMM Press
E.Kowara.1986. Teori Teori Kepribadian. Bandung : PT .Erosco
Syamsu Yusuf LN dan Juntika Nuriichsan .2007. Teori Kepribadian . Bandung .UPI .
Yusuf, Syamsu. 2004. Psikologi Perkembangan Anak dan Remaja, Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

globalisasi indonesia

May 21, 2011

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Di zaman sekarang ini, sudah banyak sekali perubahan-perubahan yang terjadi dalam tatanan kehidupan manusia. Perubahan itu bisa disebut era globalisasi, era globalisasi dewasa ini dan di masa datang sedang dan akan mempengaruhi perkembangan sosial budaya masyarakat Indonesia pada umumnya. Bahwa masyarakat Indonesia tidak bisa menghindarkan diri dari proses globalisasi tersebut, apalagi jika ingin survive dan berjaya di tengah perkembangan dunia yang kian kompetitif di masa kini dan masa depan.

Globalisasi mempengaruhi hampir semua aspek yang ada di masyarakat, seperti politik, ekonomi, social, agama, teknologi, dan termasuk diantaranya aspek budaya. Kebudayaan dapat diartikan sebagai nilai-nilai (values) yang dianut oleh masyarakat ataupun persepsi yang dimiliki oleh warga masyarakat terhadap berbagai hal. Baik nilai-nilai maupun persepsi berkaitan dengan aspek-aspek kejiwaan/psikologis, yaitu apa yang terdapat dalam alam pikiran. Aspek-aspek kejiwaan ini menjadi penting artinya apabila disadari, bahwa tingkah laku seseorang sangat dipengaruhi oleh apa yang ada dalam alam pikiran orang yang bersangkutan. Sebagai salah satu hasil pemikiran dan penemuan seseorang adalah kesenian, yang merupakan subsistem dari kebudayaan.

Globalisasi yang diikuti dengan kemajuan teknologi telah menyentuh hampir semua bidang kehidupan manusia. Arus informasi dari suatu tempat ke tempat lain dapat diterima dengan cepat dan lengkap. Bersamaan dengan itu media komunikasi mengalami perkembangan yang sangat pesat, baik dalam segi konten berita maupun dalam segi variasi segmen, dan semakin dominan dalam menentukan corak dan warna manusia baik sebagai individu maupun sebagai makhluk sosial. Kehadiran teknologi pada dasarnya didorong oleh obsesi manusia untuk mengatasi jarak dan ruang, serta sebagai pemuas kebutuhan manusia akan informasi.
Revolusi teknologi informasi ini telah meledakkan serpihan budaya Barat sampai tak terbendung mengalir dan merubah budaya sebagian besar masyarakat dunia, terutama yang tinggal di perkotaan. Masyarakat perkotaan yang memiliki kemudahan akses terhadap informasi merupakan kelompok masyarakat yang langsung terkena pengaruh budaya global. Serta terpaan budaya global ini lambat laun mengakibatkan perubahan sosial budaya, yaitu sebuah gejala berubahnya struktur sosial dan pola budaya dalam suatu masyarakat. Perubahan ini merupakan hal yang umum terjadi, seiring berkembangnya zaman dan sesuai dengan sifat dasar manusia yang selalu ingin berubah. Perubahan ini mencakup banyak aspek dari hidup manusia, termasuk perubahan peradaban dan gaya hidup.

Globalisasi tampaknya telah menjadi bagian dari kehidupan kita. Kita tidak dapat melepaskan diri dari globalisasi. Ibaratnya, siap atau tidak siap, kita mesti berhadapan dengan globalisasi. Namun demikian, arus globalisasi ternyata tidak selamanya berdampak positif. Ada pula dampak negatifnya. Oleh karena itu, kita harus mempunyai penyaring (filter) untuk menghadapinya agar kita tidak terlindas oleh jaman. Justru sebaliknya, kita harus tetap menjadi manusia yang berjiwa manusiawi. Untuk kesuksesan dan kesejahteraan umat manusia di seluruh dunia.

B. Rumusan Masalah
1. Bagaimanakah arus globalisasi di Indonesia?
2. Bagaimanakah dampak dari globalisasi terhadap kehidupan bangsa Indonesia?

C. Tujuan Penulisan
1. Memenuhi persyaratan nilai matakuliah Pendidikan Kewarganegaraan
2. Memberi wawasan mengenai arus globalisasi
3. Memberi wawasan mengenai dampak dari globalisasi baik positif maupun negatif
4. Memberi wawasan mengenai bagaimana mengambil sikap di era globalisasi ini

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pengertian globalisasi

Kata global, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bermakna universal. Secara umum atau keseluruhan, taksiran secara bulat, secara garis besar atau meliputi seluruh dunia. Dari kata ini lahirlah kata ”globalisasi”, globalisasi diartikan sebagai proses masuknya ke ruang lingkup dunia. Pahamnya disebut globalisme, yaitu paham kebijaksanaan nasional yang memperlakukan seluruh dunia sebagai lingkungan yang pantas untuk pengaruh politik.
Menurut John Huckle, globalisasi adalah suatu proses dengan mana kejadian, keputusan, dan kegiatan di salah satu bagian dunia menjadi suatu konsekuensi yang signifikan bagi individu dan masyarakat di daerah yang jauh. Sementara itu, Albrow mengemukakan bahwa globalisasi adalah keseluruhan proses di mana manusia di bumi ini diinkorporasikan (dimasukkan) ke dalam masyarakat dunia tunggal, masyarakat global. Karena proses ini bersifat majemuk, kita pun memandang globalisasi di dalam kemajemukan.
Secara ekonomi, globalisasi merupakan proses pengintegrasian ekonomi nasional bangsa-bangsa ke dalam sebuah sistem ekonomi global.
Menurut Prijono Tjjiptoherijanto, konsep globalisasi pada dasarnya mengacu pada pengertian ketiadaan batas antar negara (stateless). Konsep ini merujuk pada pengertian bahwa suatu negara (state) tidak dapat membendung “sesuatu” yang terjadi di negara lain. Pengertian “sesuatu” tersebut dikaitkan dengan banyak hal seperti pola perilaku, tatanan kehidupan, dan sistem perdagangan.
Pada intinya, globalisasi diyakini dapat mewujudkan satu tatanan kehidupan baru. Tatanan dunia baru itu berupa kesatuan koeksistensi (keadaan hidup berdampingan secara damai antar bangsa yang berbeda atau bertentangan pandangan politiknya. Mengapa terjadi koeksistensi? Karena setiap warga dunia berhasil menyingkirkan batas-batas geografis, ekonomi, dan budaya masyarakat. Dengan kata lain, munculnya arus globalisasi bersamaan hilangnya batas-batas wilayah sebuah negara.
Jelas sekali bahwa globalisasi merupakan sebuah istilah yang memiliki hubungan dengan peningkatan keterkaitan dan ketergantungan antarbangsa dan antarmanusia di seluruh dunia dunia melalui perdagangan, investasi, perjalanan, budaya populer, dan bentuk-bentuk interaksi yang lain sehingga batas-batas suatu negara menjadi semakin bias atau sempit.
B. Karakteristik globalisasi
Salah satu karakteristik globalisasi adalah ditandai dengan adanya mobilitas pemikiran, gagasan, dan ide-ide. Dampaknya adalah adanya sebuah common ideas dari penyebaran pemikiran-pemikiran tersebut ke berbagai belahan dunia. Satu dari ide atau gagasan maupun pemikiran yang sedang menjadi sorotan banyak kalangan adalah demokrasi baik itu sebagai nilai maupun sebagai institusi politik.
1. Karakteristik

a. Penciptaan dan penggandaan

Berbagai aspek kehidupan seperti produk, gaya hidup ataupun praktik-praktik politik saat ini cenderung tidak lagi dibatasi oleh kaidah-kaidah atau batasan-batasan geografis ataupun kultural. Globalisasi bisa muncul dalam bentuk penggandaan praktik maupun produk yang telah ada sebelum, tetapi bisa juga muncul dari hal-hal yang baru. Berbagai produk, seperti McDonald, Coca Cola atau Levi’s misalnya, saat ini tersedia di seluruh belahan bumi dan bisa dinikamati oleh hampir semua orang diseluruh dunia. Pada saat yang sama, demokrasi telah berkembang menjadi sebuah praktik politik yang diidealkan.

b. Perluasan dan Pemakaran hubungan sosial, aktivitas, dan saling kebergantungan

Globalisasi juga ditandai dengan perluasan dan pemekaran dalam artian spasial dan temporal. Semua kegiatan, hubungan dan proses berlangsung pada saat yang bersamaan dalam skala global dan berlangsung selama 24 jam. Perluasan dan pemekaran temporal dan spasial ini terlihat misalnya dengan operasi kegiatan finansial global, chain stores, kelompok teroris ataupun gerakan-gerakan sipil global.

c. Intensifikasi dan akselerasi
Proses intensifikasi dan akselerasi terjadi dalam kaitannya dengan pertukaran data dan informasi maupun dalam kaitannya dengan hubungan sosial. Dalam kaitan ini, globalisasi pada dasarnya adalah lokalisasi. Jika selama ini lokal dan global di pahami sebagai dua kutub ekstrim dari sebuah kontinum, globalisasi menjadikan lokal dan global sekaligus awal dan akhir.

d. Kesadaran manusia
Globalisasi juga ditandai dengan karakter yang berupa kesadaran manusia sebagai bagian dari globalitas. Manusia menjadi semakin sadar terhadap proses yang berlangsung ini. Sebagai bagian dari rangkaian proses ke arah globalitas, kesadaran ini merupakan aspek non material atau non obyektif. Proses ini berlangsung baik pada tingkat individual maupun pada tingkat kolektif, seperti negara.

2. Infrastruktur global
Semua karakteristik globalisasi tersebut hanya mungkin berkembang dengan dukungan infrasturktur yang tepat. Infrastruktur dalam artian ini meliput infrastruktur material, organisasional, dan ideologis.
Infrastruktur material terutama menyangkut teknologi informasi dan komunikasi, yang semakin maju dan semakin tersedia bagi semakin banyak orang. Infrastruktur organisasi mengacu pada institusi-institusi yang mengendalikan dunia. Dalam artian, Bank Dunia, IMF, WTO, adalah bentuk-bentuk infrastruktur organisasi. Infrastruktur ideologis mengacu pada norma-norma, sikap-sikap atau perspektif yang memungkinkan manusia bersifat adaptif dan resetif terhadap globalisasi. Pendidikan ataupun sosialisasi yang menggambarkan global sebagai sesuatu yang baik, lebih baik atau menguntungkan, misalnya menjadi faktor penting bagi berkembangnya globalisasi.

C. Proses Globalisasi

Globalisasi sebagai suatu proses bukanlah suatu fenomena baru karena proses globalisasi sebenarnya telah ada sejak berabad-abad lamanya.
Di akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 arus globalisasi semakin berkembang pesat di berbagai negara ketika mulai ditemukan teknologi komunikasi, informasi, dan transportasi.
Loncatan teknologi yang semakin canggih pada pertengahan abad ke-20 yaitu internet dan sekarang ini telah menjamur telepon genggam (handphone) dengan segala fasilitasnya.
Bagi Indonesia, proses globalisasi telah begitu terasa sekali sejak awal dilaksanakan pembangunan. Dengan kembalinya tenaga ahli Indonesia yang menjalankan studi di luar negeri dan datangnya tenaga ahli (konsultan) dari negara asing, proses globalisasi yang berupa pemikiran atau sistem nilai kehidupan mulai diadopsi dan dilaksanakan sesuai dengan kondisi di Indonesia.
Globalisasi secara fisik ditandai dengan perkembangan kota-kota yang menjadi bagian dari jaringan kota dunia. Hal ini dapat dilihat dari infrastruktur telekomunikasi, jaringan transportasi, perusahaan-perusahaan berskala internasional serta cabang-cabangnya.

BAB III
PEMBAHASAN

A. Indonesia dan Arus Globalisasi Dunia

Seperti diketahui, saat ini mau tidak mau kita harus berhadapan dengan arus globalisasi. Sikap terbaik untuk mengahdapi arus globalisasi kita harus merancang dan merumuskan apa saja yang menjadi tugas dan kewajiban setiap diri kita. Salah satu tugas dan kewajiban yang harus kita laksanakan adalah menegakkan dan mempertahankan kedaulatan bangsa dan negara. Tugas dan kewajiban itu telah ditegaskan dalam Pembukaan dan pasal-pasal UUD 1945. Saat ini, pengaruh globalisasi yang sangat jelas terlihat terjadi di bidang ekonomi, kebudayaan, dan teknologi informasi.

1. Globalisasi ekonomi
Globalisasi perekonomian merupakan proses kegiatan ekonomi dan perdagangan. Dalam situasi global, setiap negara di seluruh dunia yang terlibat dalam kegiatan perekonomian pasti harus berhadapan dengan negara lainnya. Dunia yang semakin mengglobal ini menjadikan hadirnya satu kekuatan pasar yang semakin terintegrasi. Bahkan, bata teritorial negara hampir tidak ada sama sekali. Jelas sekali, disadari atau tidak, globalisasi perekonomian telah mengharuskan adanya penghapusan seluruh batasan dan hambatan terhadap arus modal, barang dan jasa.
Globalisasi perekonomian di satu pihak akan membuka peluang pasar produk dari dalam negeri ke pasar internasional secara kompetitif. Sebaliknya pada saat yang sama, globalisasi juga membuka peluang masuknya produk-produk global ke dalam pasar domestik. Dalam kondisi demikian, kemampuan bersaing harus mulai diperhatikan. Kemampuan bersaing ini bergantung pada kualitas atau keunggulan produk yang dipasarkan. Jadi, perhatian utama bangsa Indonesia bukan pada keunggulan komparatif, melainkan pada keunggulan kompetitif. Adapun jenis-jenis globalisasi ekonomi yaitu :
– Globalisasi produksi. Dalam hal ini, perusahaan industri yang sudah besar melakukan ekspansi usaha, mereka memproduksi barang produknya di berbagai negara dengan sasaran agar biaya produksi menjadi lebih rendah.
– Globalisasi pembiayaan. Perusahaan global mempunyai akses sangat mudah untuk memperoleh pinjaman atau melakukan investasi, baik dalam bentuk portofolio maupun langsung, disemua negara di dunia. Misalnya PT Jasa Marga yang berusaha memperluas jaringan jalan tol.
– Globalisasi tenaga kerja. Perusahaan global mampu memanfaatkan tenaga kerja dari negara di seluruh dunia yang sesuai dengan kelasnya.
– Globalisasi jaringan informasi. Masyarakat di suatu negara akan dengan mudah dan cepat mendapatkan informasi dari negara-negara di dunia lainnya. Misalnya, adanya jaringan TV Internasional.
– Globalisasi perdagangan. Hal ini terwujud dalam bentuk penurunan dan penyeragaman tarif, serta pengahapusan berbagai hambatan nontarif. Misalnya perdagangan antarbenua telah melahirkan beberapa lembaga bentukan baru seperti APEC atau AFTA. Seiring dengan globalisasi ini, kegiatan perdagangan dan persaingan menjadi semakin cepat, ketat dan fair.

Adapun dampak positif dan negatif dari globalisasi ekonomi yaitu :
Dampak positif
– Mendorong perusahaan (pelaku ekonomi) untuk melakukan kerja sama antar perusahaan.
– Semakin terbukanya pasar-pasar untuk produk ekspor
– Semakin mudah mengakses modal investasi dari luar negeri
– Memperoleh lebih banyak modal dan pengembangan teknologi yang lebih baik
Dampak negatif
– Membanjirnya produk impor di pasaran domestik (Indonesia) sehingga mematikan usaha-usaha Indonesia
– Hilangnya pasar produk ekspor Indonesia karena kalah bersaing dengan negara lain
– Masuknya tenaga kerja asing di Indonesia yang lebih profesional Sumber Daya Manusianya
– Hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri karena banyaknya produk luar negeri
2. Globalisasi Kebudayaan

Kebudayaan berarti hasil kegiatan dan penciptaan batin (akal-budi) manusia seperti kepercayaan, kesenian, dan adat istiadat. Menurut antropologi, kebudayaan merupakan keseluruhan pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami lingkungan, serta pengalamannya dan yang menjadi pedoman tingkah lakunya.
Saat ini, arus globalisasi sudah sangat mempengaruhi hampir semua aspek yang ada di masyarakat, termasuk diantaranya aspek budaya. Di dalam kebudayaan ada nilai-nilai (values) kehidupan yang di anut oleh masyarakat. Kebudayaan juga mencakup persepsi yang dimiliki oleh warga masyarakat terhadap berbagai hal, apakah nilai-nilai atau persepsi itu berkaitan dengan aspek-aspek psikologis atau aspek lainnya. Aspek psikologis yang dimaksud adalah apa-apa yang terdapat di alam pikiran seseorang atau sekelompok orang.
Arus globalisasi begitu cepat merasuk ke dalam masyarakat terutama di kalangan muda. Pengaruh globalisasi terhadap anak muda juga begitu kuat. Pengaruh globalisasi tersebut telah membuat banyak anak muda kita kehilangan kepribadian diri sebagai bangsa Indonesia. Hal ini ditunjukkan dengan gejala- gejala yang muncul dalam kehidupan sehari- hari anak muda sekarang.
Dari cara berpakaian banyak remaja- remaja kita yang berdandan seperti selebritis yang cenderung ke budaya Barat. Mereka menggunakan pakaian yang minim bahan yang memperlihatkan bagian tubuh yang seharusnya tidak kelihatan. Pada hal cara berpakaian tersebut jelas- jelas tidak sesuai dengan kebudayaan kita. Tak ketinggalan gaya rambut mereka dicat beraneka warna. Pendek kata orang lebih suka jika menjadi orang lain dengan cara menutupi identitasnya. Tidak banyak remaja yang mau melestarikan budaya bangsa dengan mengenakan pakaian yang sopan sesuai dengan kepribadian bangsa.

Dampak yang diberikan dari globalisasi kebudayaan ini, yaitu :
Dampak positif
– Tersebarnya nilai-nilai dan budaya tertentu keseluruh dunia
– Semakin cepatnya perkembangan kebudayaan
– Berkembangnya turisme dan pariwisata
Dampak negatif
– Kebudayaan asli mulai runtuh
– Cara berpakaian mulai berubah
– Hilangnya semangat nasionalisme dan patriotisme
– Gaya hidup cenderung meniru budaya barat yang oleh masyarakat dunia dianggap sebagai kiblat.

3. Globalisasi Teknologi dan Informasi
Semakin tingginya peradaban yang ditopang oleh keberadaan ilmu pengetahuan dan teknologi, masyarakat modern sebagaimana dihasilkan oleh industrialisasi dan teknologisasi merupakan masyarakat dengan struktur kehidupan yang dinamis, kreatif untuk melahirkan gagasan-gagasan demi kepentingan manusia dalam berbagai sektor kehidupan. Daya berpikir dan daya cipta semakin berkembang sedemikian rupa sehingga mampu memformulasikan makna kehidupan dalam konteks yang nyata, seterusnya akan berakibat pada bergesernya nilai-nilai budaya yang setiap saat dapat berlangsung walaupun lamban namun pasti.
Tidak satupun peradaban yang dapat disebut maju tanpa diikuti oleh pesatnya pertumbuhan ilmu dan teknologi. Munculnya industrialisasi adalah dampak dari kemajuan pola pikir dan daya kreasi manusia sehingga mampu memformulasikan makna kehidupan dalam bentuk sarana yang tersedia di alam raya. Industrialisasi dengan demikian menyangkut proses perubahan sosial, yaitu perubahan susunan kemasyarakatan dari suatu sistem sosial, perubahan dari keadaan negara kurang maju (less developed country) menuju kepada negara maju (more developed country). Karena itu, penguasaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan prasyarat untuk memenuhi kebutuhan hidup modern yang sudah memasuki seluruh wilayah kehidupan manusia dan masyarakat bangsa.
Penyerbuan komunikasi dan informasi yang menembus batas-batas budaya. Seluruh kemajuan yang diperoleh oleh manusia tidak bisa dilepaskan dari peranan komunikasi. Komunikasi memang menyentuh semua aspek kehidupan bermasyarakat, atau sebaliknya semua aspek kehidupan masyarakat menyentuh komunikasi. Justru itu orang selalu melukiskan komunikasi sebagai ubiquitous atau serba hadir. Artinya komunikasi berada di manapun dan kapanpun. Komunikasi merupakan sesuatu yang memang serba ada. Sifat komunikasi yang serba hadir ini, selain memberikan keuntungan juga sekaligus menimbulkan banyak kesulitan karena fenomena komunikasi itu menjadi luas, ganda dan multi makna.
Dengan perkembangan teknologi yang ada saat ini seperti teknologi internet merupakan teknologi yang memberikan informasi tanpa batas dan dapat diakses oleh siapa saja. Apa lagi bagi anak muda internet sudah menjadi santapan mereka sehari-hari. Jika digunakan secara semestinya tentu kita memperoleh manfaat yang berguna. Tetapi jika tidak, kita akan mendapat kerugian. Dan sekarang ini, banyak pelajar dan mahasiswa yang menggunakan tidak semestinya. Misal untuk membuka situs-situs porno. Bukan hanya internet saja, ada lagi pegangan wajib mereka yaitu handphone. Rasa sosial terhadap masyarakat menjadi tidak ada karena mereka lebih memilih sibuk dengan menggunakan handphone.

Dampak yang ditimbulkan dari globalisasi teknologi dan informasi, yaitu :
Dampak positif
– Memudahkan manusia untuk berkomunikasi jarak jauh dengan menggunakan akses jejaring sosial
– Membantu melakukan pekerjaan manusia seperti mesin-mesin yang dengan otomatis bekerja sendiri
– Cepat mendapatkan informasi yang diperlukan
Dampak negatif
– Dapat dengan mudah mengakses situs-situs yang berunsur pornografi
– Menjadikan manusia yang ”anti-sosial”
– Dapat merusak nilai moral generasi muda saat ini

Adapun globalisasi lainnnya yang ada di berbagai aspek kehidupan manusia antara lain :

a. Globalisasi Sosial
Dampak positif
– Generasi muda mampu mendapatkan sarana-sarana informasi yang lebih efisien dengan jangkauan yang lebih luas
– Adanya perubahan tata nilai dan sikap ke arah yang lebih baik
– Tingkat kehidupan yang lebih baik
Dampak negatif
– Menyebabkan kesenjangan sosial dalam masyarakat
– Menyebabkan gaya hidup yang individualistik
– Menyebabkan gaya hidup yang kebarat-baratan

b. Globalisasi Politik
Dampak positif
– Pemerintah bersikap demokratis dan terbuka
– Transparansi, akuntabilitas dan profesional dalam penyelenggaraan negara
– Semakin banyaknya partai politik
Dampak negatif
– Penyebaran nilai-nilai politik barat
– Semakin lunturnya nilai politik yang berdasarkan gotong royong, semangat kekeluargaan dan musyawarah
– Menguatnya nilai politik dengan semangat individual

c. Globalisasi Pertahanan dan Keamanan
Dampak positif
– Menguatnya supremasi hukum, demokratisasi dan tuntutan dilaksanakannya HAM
– Menguatnya regulasi hukum dan pembuatan peraturan perundang-undangan
– Aparat hukum dituntut untuk lebih profesional
Dampak negatif
– Tidak semua negara bisa beradaptasi dengan teknologi dengan sistem baru
– Globalisasi menghasilkan ancaman keamanan terhadap komunitas dan individu yang mempunyai karakter yang terbuka
– Globalisasi membuat batas wilayah tidak mampu lagi membatasi pengaruh yang masuk dalam negara

Dampak positif dan negatif pada pengaruh globalisasi terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara pun ada. Dampak positifnya yaitu :
– Meningkatnya peluang kesempatan kerja
– Mendorong masyarakat untuk lebih memiliki pengetahuan, ketrampilan dan komunikasi
– Mendorong masyarakat untuk lebih produktif dan meningkatkan kualitas produksinya sehingga mampu bersaing di pasar global
– Meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat
– Membuka peluang baru bagi pengusaha untuk berusaha di berbagai sektor dan berbagai negara
Dampak negatifnya yaitu :
– Adanya persaingan antara negara maju dengan negara berkembang dan dapat menghambat perkembangan ekonomi nasional
– Bagi mereka yang tertinggal, termasuk masyarakat yangtidak memiliki pengetahuan dan ketrampilan sesuai kebutuhan, akan terjadi pengangguran yang membahayakan kehidupan sosial
– Pengangguran akan mengakibatkan adanya masalah sosial, kerawanan sosial dan sebagainya

B. Sikap dan antisipasi yang harus dirancang untuk menghadapi globalisasi
1. Reposisi diri terhadap arus globalisasi
Saat ini, krisis di berbagai bidang kehidupan terus menimpa bangsa kita. Sedikitnya, masalah itu bisa mengurangi rasa percaya diri (self confidence). Kita juga mudah untuk tidak berkonsentrasi dan tidak berupaya dengan keteguhan hati dalam memecahkan berbagai masalah itu.

2. Sikap proaktif yang harus dilaksanakan
Jati diri sebagai bangsa yang religius tidak akan hilang jika kita kembali kepada nilai dan jati diri bangsa. Nilai dan jati diri bangsa itu tertera di dalam Pembukaan UUD 1945 yang didalamnya memuat sila-sila Pancasila. Menurut Pembukaan UUD 1945, negara berkewajiban untuk melindungi segenap bangsa dan segenap tumpah darah Indonesia dari setiap ancaman dan gangguan, dari manapun datangnya. Salah satu ancaman serius itu adalah globalisasi.
– Kita harus bekerja keras membangun perekonomian bangsa, kita tidak boleh tertinggal terus oleh kemajuan negara-negara lain.
– Menumbuhkan semangat nasionalisme yang tangguh, misal semangat mencintai produk dalam negeri.
– Menanamkan dan mengamalkan nilai- nilai Pancasila dengan sebaik- baiknya.
– Menanamkan dan melaksanakan ajaran agama dengan sebaik- baiknya.
– Mewujudkan supremasi hukum, menerapkan dan menegakkan hukum dalam arti sebenar-benarnya dan seadil- adilnya.
– Selektif terhadap pengaruh globalisasi di bidang politik, ekonomi, sosial budaya.

Dengan adanya langkah-langkah antisipasi tersebut diharapkan mampu menangkis pengaruh globalisasi yang dapat mengubah nilai nasionalisme terhadap bangsa. Sehingga kita tidak akan kehilangan kepribadian bangsa.

BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan

Globalisasi merupakan suatu proses yang mencakup keseluruhan dalam berbagai bidang kehidupan sehingga tidak tampak lagi adanya batas-batas yang mengikat secara nyata, sehingga sulit untuk disaring atau dikontrol. Globalisasi merupakan suatu gejala wajar yang pasti akan dialami oleh setiap bangsa di dunia, baik pada masyarakat yang maju, masyarakat berkembang, masyarakat transisi, maupun masyarakat yang masih rendah taraf hidupnya.
Dalam era global, suatu masyarakat/negara tidak mungkin dapat mengisolasi diri terhadap proses globalisasi. Jika suatu masyarakat/negara mengisolasi diri dari globalisasi, mereka dapat dipastikan akan terlindas oleh jaman serta terpuruk pada era keterbelakangan dan kebodohan.
Dampak positif dan negatif pada pengaruh globalisasi terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara pun ada. Salah satu contoh dalam era globalisasi pada sistem politik. Bangsa Indonesia telah menerapkan kehidupan berdemokrasi yang telah membawa perubahan-perubahan yang besar, diantaranya pelaksanaan pemilu legislatif dengan sistem multipartai dan pemilihan presiden dan wakil presiden secara langsung. Itu dampak positifnya.
Sedang dampak negatifnya ialah pada kebanyakan negara berkembang akan memunculkan sikap dan tindakan anarkis yang dapat memakan banyak korban diantara sesama. Wawasan kebangsaan semakin terpuruk sehingga dapat menimbulkan disintegrasi bangsa. Seperti munculnya Gerakan Papua Merdeka dan Gerakan Aceh Merdeka.

DAFTAR PUSTAKA

Nurida, Heni dan Sutisna, kurdi. 2008. Pendidikan dan Kewarganegaraan. Jakarta : HUP
Muhlisin dan Sujiyanto. 2005. Praktik Belajar Kewarganegaraan. Jakarta : Ganeca Exact.
http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Globalisasi&action=edit
Pengertian GLOBALISASI http://id.shvoong.com/society-and-news/news-items/2004730-pengertian-globalisasi/#ixzz1IqOf3evW

http://www.gusbud.web.id/2010/01/dampak-globalisasi-ekonomi-dan-pengaruh.html

http://agusharyadi1.blogspot.com/2001/09/negara-masyarakat-dan-tantangan_14.html

pendidikan dan kebudayaan

May 21, 2011

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Telah kita ketahui bersama bahwasanya pendidikan lahir seiring dengan keberadaan manusia, bahkan dalam proses pembentukan masyarakat pendidikan ikut andil untuk menyumbangkan proses-proses perwujudan pilar-pilar penyangga masyarakat. Dalam hal ini, kita bisa mengingat salah satu ungkapan para tokoh antropologi seperti Goodenough, 1971; Spradley, 1972; dan Geertz, 1973 mendefinisikan arti kebudayaan di mana kebudayaan merupakan suatu sistem pengetahuan, gagasan dan ide yang dimiliki oleh suatu kelompok masyarakat yang berfungsi sebagai landasan pijak dan pedoman bagi masyarakat itu dalam bersikap dan berperilaku dalam lingkungan alam dan sosial di tempat mereka berada (Sairin , 2002).
Sebagai sistem pengetahuan dan gagasan, kebudayaan yang dimiliki suatu masyarakat merupakan kekuatan yang tidak tampak (invisble power), yang mampu menggiring dan mengarahkan manusia pendukung kebudayaan itu untuk bersikap dan berperilaku sesuai dengan pengetahuan dan gagasan yang menjadi milik masyarakat tersebut, baik di bidang ekonomi, sosial, politik, kesenian dan sebagainya. Sebagai suatu sistem, kebudayaan tidak diperoleh manusia dengan begitu saja secara ascribed, tetapi melalui proses belajar yang berlangsung tanpa henti, sejak dari manusia itu dilahirkan sampai dengan ajal menjemputnya.
Proses belajar dalam konteks kebudayaan bukan hanya dalam bentuk internalisasi dari sistem “pengetahuan” yang diperoleh manusia melalui pewarisan atau transmisi dalam keluarga, lewat sistem pendidikan formal di sekolah atau lembaga pendidikan formal lainnya, melainkan juga diperoleh melalui proses belajar dari berinteraksi dengan lingkungan alam dan sosialnya.
Melalui pewarisan kebudayaan dan internalisasi pada setiap individu, pendidikan hadir dalam bentuk sosialisasi kebudayaan, berinteraksi dengan nilai-nilai masyarakat setempat dan memelihara hubungan timbal balik yang menentukan proses-proses perubahan tatanan sosio-kultur masyarakat dalam rangka mengembangkan kemajuan peradabannya. Sebaliknya, dimensi-dimensi sosial yang senantiasa mengalami dinamika perkembangan seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan faktor dominan yang telah membentuk eksistensi pendidikan manusia. Penggunaan alat dan sarana kebutuhan hidup yang modern telah memungkinkan pola pikir dan sikap manusia untuk memproduk nilai-nilai baru sesuai dengan intensitas pengaruh teknologi terhadap tatanan kehidupan sosial budaya.
Dalam hal ini, pendidikan menjadi instrumen kekuatan sosial masyarakat untuk mengembangkan suatu sistem pembinaan anggota masyarakat yang relevan dengan tuntutan perubahan zaman. Abad globalisasi telah menyajikan nilai-nilai baru, pengertian-pengertian baru serta perubahan-perubahan di seluruh ruang lingkup kehidupan manusia yang waktu kedatangannya tidak bisa diduga-duga. Sehingga dunia pendidikan merasa perlu untuk membekali diri dengan perangkat pembelajaran yang dapat memproduk manusia zaman sesuai dengan atmosfir tuntutan global.
Penguasaan teknologi informasi, penyediaan SDM yang profesional, terampil dan berdaya guna bagi masyarakat, kemahiran menerapkan Iptek, perwujudan tatanan sosial masyarakat yang terbuka, demokratis, humanis serta progresif dalam menghadapi kemajuan jaman merupakan beberapa bekal mutlak yang harus dimiliki oleh semua bangsa di dunia ini yang ingin tetap bertahan menghadapi tata masyarakat baru berwujud globalisasi.
Melihat urgensi hubungan antara pendidikan dan dinamika sosial budaya, di mana pada langkah awalnya akan dibangun suatu proses penjelasan hakikat kebudayaan sebagai wahana tumbuh kembangnya eksistensi pendidikan terhadap anggota masyarakat. Sebagai salah satu perangkat kebudayaan, pendidikan akan melakukan tugas-tugas kelembagaan sesuai dengan hukum perkembangan masyarakat. Dari sini dapat kita amati bersama sebuah alur pembahasan hubungan dialektik antara pendidikan dengan realitas perkembangan sosial faktual yang saat ini tengah menggejala pada hampir seluruh masyarakat dunia.

B. Rumusan Masalah

A. Apa sajakah teori-teori pendidikan?
B. Apa sajakah teori-teori kebudayaan?
C. Bagaimana interaksi pendidikan dengan kebudayaan?
D. Bagaimana pentingnya peranan pendidikan dalam membentuk manusia yang berbudaya?

C. Tujuan Penulisan

1. Memenuhi persyaratan nilai matakuliah Sosio-Antropologi Pendidikan
2. Memberi pengetahuan mengenai pendidikan dan kebudayaan
3. Memberi wawasan tentang arti pentingnya pendidikan dalam membentuk insan yang berbudaya
4. Memberi pengetahuan mengenai interaksi pendidikan dan kebudayaan

BAB II
PEMBAHASAN

A. Teori-teori Pendidikan

Pengertian pendidikan

Pendidikan menurut Prof. Dr. N. Drijarkara adalah pendidikan merupakan pe-manusia-an manusia muda, atau pengangkatan manusia muda ke taraf insani. Drijarkara memberikan batasan tersebut dari segi filsafat pendidikan. Menurut Prof. Dr. M.J. Langeveld, pendidikan adalah setiap usaha, pengaruh, perlindungan dan bantuan yang diberikan kepada anak tertuju pada pendewasaan anak, atau lebih tepat membantu anak agar cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri. Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan ialah tuntutan didalam hidup dan tumbuhnya anak-anak maksudnya pendidikan itu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya.
Kamus Bahasa Indonesia, 1991:232, Pendidikan berasal dari kata “didik”, Lalu kata ini mendapat awalan kata “me” sehingga menjadi “mendidik” artinya memelihara dan memberi latihan. Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntutan dan pimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran.
Menurut UU No.20 tahun 2003 tentang sistem Pendidikan Nasional, Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.
Teori Pendidikan
Kurikulum memiliki keterkaitan yang sangat erat dengan teori pendidikan. Suatu kurikulum disusun dengan mengacu pada satu atau beberapa teori kurikulum dan teori kurikulum dijabarkan berdasarkan teori pendidikan tertentu. Nana S. Sukmadinata (1997) mengemukakan 4 (empat ) teori pendidikan, yaitu :
1. Pendidikan klasik,
Teori pendidikan klasik berlandaskan pada filsafat klasik, seperti Perenialisme, Eessensialisme, dan Eksistensialisme dan memandang bahwa pendidikan berfungsi sebagai upaya memelihara, mengawetkan dan meneruskan warisan budaya. Teori ini lebih menekankan peranan isi pendidikan dari pada proses.
Isi pendidikan atau materi diambil dari khazanah ilmu pengetahuan yang ditemukan dan dikembangkan para ahli tempo dulu yang telah disusun secara logis dan sistematis. Dalam prakteknya, pendidik mempunyai peranan besar dan lebih dominan, sedangkan peserta didik memiliki peran yang pasif, sebagai penerima informasi dan tugas-tugas dari pendidik.
2. Pendidikan pribadi
Teori pendidikan ini bertolak dari asumsi bahwa sejak dilahirkan anak telah memiliki potensi-potensi tertentu. Pendidikan harus dapat mengembangkan potensi-potensi yang dimiliki peserta didik dengan bertolak dari kebutuhan dan minat peserta didik. Dalam hal ini, peserta didik menjadi pelaku utama pendidikan, sedangkan pendidik hanya menempati posisi kedua, yang lebih berperan sebagai pembimbing, pendorong, fasilitator dan pelayan peserta didik.
Teori pendidikan pribadi menjadi sumber bagi pengembangan model kurikulum humanis. yaitu suatu model kurikulum yang bertujuan memperluas kesadaran diri dan mengurangi kerenggangan dan keterasingan dari lingkungan dan proses aktualisasi diri. Kurikulum humanis merupakan reaksi atas pendidikan yang lebih menekankan pada aspek intelektual (kurikulum subjek akademis).

3. Teknologi pendidikan
Teknologi pendidikan yaitu suatu konsep pendidikan yang mempunyai persamaan dengan pendidikan klasik tentang peranan pendidikan dalam menyampaikan informasi. Namun diantara keduanya ada yang berbeda. Dalam teknologi pendidikan, lebih diutamakan adalah pembentukan dan penguasaan kompetensi atau kemampuan-kemampuan praktis, bukan pengawetan dan pemeliharaan budaya lama.
Dalam teori pendidikan ini, isi pendidikan dipilih oleh tim ahli bidang-bidang khusus, berupa data-data obyektif dan keterampilan-keterampilan yang yang mengarah kepada kemampuan vocational . Isi disusun dalam bentuk desain program atau desain pengajaran dan disampaikan dengan menggunakan bantuan media elektronika dan para peserta didik belajar secara individual.
Peserta didik berusaha untuk menguasai sejumlah besar bahan dan pola-pola kegiatan secara efisien tanpa refleksi. Keterampilan-keterampilan barunya segera digunakan dalam masyarakat. Guru berfungsi sebagai direktur belajar, lebih banyak tugas-tugas pengelolaan dari pada penyampaian dan pendalaman bahan.
4. Pendidikan interaksional
Pendidikan interaksional yaitu suatu konsep pendidikan yang bertitik tolak dari pemikiran manusia sebagai makhluk sosial yang senantiasa berinteraksi dan bekerja sama dengan manusia lainnya. Pendidikan sebagai salah satu bentuk kehidupan juga berintikan kerja sama dan interaksi. Dalam pendidikan interaksional menekankan interaksi dua pihak dari guru kepada peserta didik dan dari peserta didik kepada guru.
Lebih dari itu, dalam teori pendidikan ini, interaksi juga terjadi antara peserta didik dengan materi pembelajaran dan dengan lingkungan, antara pemikiran manusia dengan lingkungannya. Interaksi terjadi melalui berbagai bentuk dialog. Dalam pendidikan interaksional, belajar lebih sekedar mempelajari fakta-fakta.
Peserta didik mengadakan pemahaman eksperimental dari fakta-fakta tersebut, memberikan interpretasi yang bersifat menyeluruh serta memahaminya dalam konteks kehidupan. Filsafat yang melandasi pendidikan interaksional yaitu filsafat rekonstruksi sosial.
Ada beberapa teori-teori pendidikan antara lain :
1. Behaviorisme
Behaviorisme adalah mengatakan bahwa untuk menjadi ilmu pengetahuan, psikologi harus memfokuskan perhatiannya pada sesuatu yang bisa diteliti lingkungan dan prilaku dari pada focus pada apa yang tersedia dalam individu persepsi-persepsi, pikiran –pikiran , berbgai citra perasaan-perasaan, dan sebagainya. Perasaan itu sifatnya subjektif dan kebal bagi pengukuran, sehinggah tidak akan pernah bisa menjadi ilmu pengetahuan yang objektif.
Kerangka kerja Teori pendidikan Behaviorisme adalah Empirisme. Asumsi filosofis dari Behaviorisme adalah nature of human being (Manusia tumbuh secara alami). Latar belakang Empirisme adalah How we know what we know (Bagaimanah kita tahu apa yang kita tahu). Menurut paham ini pengetahuan pada dasarnya diperoleh dari pengalaman (empiris).
Aliran Behaviorisme didasarkan pada perubahan tingkah laku yang dapat diamati. Oleh karena itu aliran ini berusaha mencoba menerangkan dalam pembelajaran bagaimanah lingkungan berpengaruh terhadap perubahan tingkah laku. Dalam aliran ini tingkah laku dalam belajar akan berubah kalau ada stimulus dan respon. Stimulus dapat berupa prilaku yang diberikan pada siswa, sedangkan respons berupa perubahan tingkah laku yang terjadi pada siswa. Jadi Berdasarkan Teori Behaviorisme Pendidikan dipengaruhi oleh lingkungan. Tokoh aliran Behaviorisme antara lain : Pavlov, Watson, Skinner, Hull, Guthrie, dan Thorndike.

2. Kognitivisme.
Kerangka kerja atau dasar pemikiran dari teori pendidikan kognitivisme adalah dasarnya rasional. Teori ini memiliki asumsi filosofis yaitu the way in which we learn (Pengetahuan seseorang diperoleh berdasarkan pemikiran) inilah yang disebut dengan filosofi Rasionalisme. Menurut aliran ini, kita belajar disebabkan oleh kemampuan kita dalam menafsirkan peristiwa atau kejadian yang terjadi dalam lingkungan. Teori Kognitivisme berusaha menjelaskan dalam belajar bagaimana orang-orang berpikir. Oleh karena itu dalam aliran kognitivisme lebih mementingkan proses belajar dari pada hasil belajar itu sendiri, karena menurut teori ini bahwa belajar melibatkan proses berpikir yang kompleks. Jadi menurut teori kognitivisme pendidikan dihasilkan dari proses berpikir. Tokoh aliran Kognitivisme antara lain : Piaget, Bruner, dan Ausebel.
3. Konstruktivisme.
Menurut teori konstruktivisme yang menjadi dasar bahwa siswa memperoleh pengetahuan adalah karena keaktifan siswa itu sendiri. Konsep pembelajaran menurut teori konstruktivisme adalah suatu proses pembelajaran yang mengkondisikan siswa untuk melakukan proses aktif membangun konsep baru, dan pengetahuan baru berdasarkan data. Oleh karena itu proses pembelajaran harus dirancang dan dikelola sedemikian rupa sehinggah mampu mendorong siswa mengorganisasi pengalamannya sendiri menjadi pengetahuan yang bermakna .
Jadi dalam pandangan konstruktivisme sangat penting peranan siswa. Agar siswa memiliki kebiasaan berpikir maka dibutuhkan kebebasan dan sikap belajar. Menurut teori ini juga perlu disadari bahwa siswa adalah subjek utama dalam penemuan pengetahuan. Mereka menyusun dan membangun pengetahuan melalui berbagai pengalaman yang memungkinkan terbentuknya pengetahuan. Mereka harus menjalani sendiri berbagai pengalaman yang pada akhirnya memberikan pemikiran tentang pengetahuan-pengetahuan tertentu. Hal terpenting dalam pembelajaran adalah siswa perlu menguasai bagaimana caranya belajar. Dengan itu ia bisa menjadi pembelajar mandiri dan menemukan sendiri pengetahuan-pengetahuan yang ia butuhkan dalam kehidupan. Tokoh aliran ini antara lain Von Glasersfeld dan Vico.
4. Humanistik
Teori ini pada dasarnya memiliki tujuan untuk ,memanusiakan manusia. Oleh karena itu proses belajar dapat dianggap berhasil apabila sipembelajar telah memahami lingkungan nya dan dirinya sendiri. Dengan kata lain sipembelajar dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambat laun ia mampu mencapai aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya.
Tujuan utama para pendidik adalah membantu siswa untuk mengembangkan dirinya yaitu membantu masing-masing individu untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka.
Menurut aliran Humanistik para pendidik sebaiknya melihat kebutuhan yang lebih tinggi dan merencanakan pendidikan dan kurikulum untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan ini .Beberapah psikolog humanistik melihat bahwa manusia mempunyai keinginan alami untuk berkembang untuk menjadi lebih baik dan belajar.
Secara singkat pendekatan humanistik dalam pendidikan menekankan pada perkembangan positif. Pendekatan yang berfokus pada potensi manusia untuk mencari dan menemukan kemampuan yang mereka punya dan mengembangkan kemampuan tersebut. Hal ini mencakup kemampuan interpersonal sosial dan metode untuk mengembangkan diri yang ditujukan untuk memperkaya diri, menikmati keberadaan hidup dan juga masyarakat. Keterampilan atau kemampuan membangun diri secara positif ini menjadi sangat penting dalam pendidikan karena keterkaitannya dengan keberhasilan akademik.
Dalam teori humanistik belajar dianggap berhasil apabila pembelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri. Tokoh –tokoh humanistik ini antara lain Arthur W.Combs, Abraham maslow, dan Carl Roger.
B. Teori-teori Kebudayaan
Menurut Ki Hajar Dewantara Kebudayaan adalah buah budi manusia yang merupakan hasil perjuangan terhadap dua pengaruh yang kuat, yaitu alam dan zaman yang merupakan kebutuhan hidup manusia untuk mengatasi tantangan hidup dan kehidupan guna mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang bersifat tertib dan damai. Beliau mengingatkan bahwa kebudayaan merupakan kemurahan Tuhan. Kebudayaan adalah sesuatu yang akan mempengaruhi tingkat pengetahuan dan meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang diciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata, misalnya pola-pola perilaku, bahasa, peralatan hidup, organisasi sosial, religi, seni, dan lain-lain, yang kesemuanya ditujukan untuk membantu manusia dalam melangsungkan kehidupan bermasyarakat.
Teori kebudayaan dapat digunakan untuk keperluan praktis, memperlancar pembangunan masyarakat, di satu sisi pengetahuan teoritis tentang kebudayaan dapat mengembangkan sikap bijaksana dalam menghadapi serta menilai kebudayaan-kebudayaan yang lain dan pola perilaku yang bersumber pada kebudayaan sendiri.
Secara garis besar hal yang dibahas dalam teori kebudayaan adalah memandang kebudayaan sebagai :
(a) Sistem adaptasi terhadap lingkungan.
(b) Sistem tanda.
(c) Teks, baik memahami pola-pola perilaku budaya secara analogis dengan wacana
tekstual, maupun mengkaji hasil proses interpretasi teks sebagai produk kebudayaan.
(d) Fenomena yang mempunyai struktur dan fungsi.
(e) Dipandang dari sudut filsafat.
Teori kebudayaan adalah usaha konseptual untuk memahami bagaimana manusia menggunakan kebudayaan untuk melangsungkan kehidupannya dalam kelompok, mempertahankan kehidupannya melalui penggarapan lingkungan alam dan memelihara keseimbangannya dengan dunia supranatural.
Keragaman teori kebudayaan dapat ditinjau dari dua perspektif, yaitu,
(a) Perspektif perkembangan sejarah yang melihat bahwa keragaman itu muncul karena aspek-aspek tertentu dari kebudayaan dianggap belum cukup memperoleh elaborasi.
(b) Perspekif konseptual yang melihat bahwa keragaman muncul karena pemecahan permasalahan konseptual terjadi menurut pandangan yang berbeda-beda. Dalam memahami kebudayaan kita tidak bisa terlepas dari prinsip-prinsip dasarnya. De Saussure merumuskan setidaknya ada tiga prinsip dasar yang penting dalam memahami kebudayaan, yaitu:
1. Tanda (dalam bahasa) terdiri atas yang menandai (signifiant, signifier, penanda) dan yang ditandai (signifié, signified, petanda). Penanda adalah citra bunyi sedangkan petanda adalah gagasan atau konsep. Hal ini menunjukkan bahwa setidaknya konsep bunyi terdiri atas tiga komponen (1) artikulasi kedua bibir, (2) pelepasan udara yang keluar secara mendadak, dan (3) pita suara yang tidak bergetar.
2. Gagasan penting yang berhubungan dengan tanda menurut Saussure adalah tidak adanya acuan ke realitas obyektif. Tanda tidak mempunyai nomenclature. Untuk memahami makna maka terdapat dua cara, yaitu, pertama, makna tanda ditentukan oleh pertalian antara satu tanda dengan semua tanda lainnya yang digunakan dan cara kedua karena merupakan unsur dari batin manusia, atau terekam sebagai kode dalam ingatan manusia, menentukan bagaimana unsur-unsur realitas obyektif diberikan signifikasi ataukebermaknaan sesuai dengan konsep yang terekam.
3. Permasalahan yang selalu kembali dalam mengkaji masyarakat dan kebudayaan adalah hubungan antara individu dan masyarakat. Untuk bahasa, menurut Saussure ada langue dan parole (bahasa dan tuturan). Langue adalah pengetahuan dan kemampuan bahasa yang bersifat kolektif, yang dihayati bersama oleh semua warga masyarakat; parole adalah perwujudan langue pada individu. Melalui individu direalisasi tuturan yang mengikuti kaidah-kaidah yang berlaku secara kolektif, karena kalau tidak, komunikasi tidak akan berlangsung secara lancar.
C. Interaksi Pendidikan dengan Kebudayaan
Pendidikan selalu berubah sesuai perkembangan kebudayaan, karena pendidikan merupakan proses transfer kebudayaan dan sebagai cermin nilai-nilai kebudayaan (pendidikan bersifat reflektif). Pendidikan juga bersifat progresif, yaitu selalu mengalami perubahan perkembangan sesuai tuntutan perkembangan kebudayaan. Kedua sifat tersebut berkaitan erat dan terintegrasi. Untuk itu perlu pendidikan formal dan informal (sengaja diadakan atau tidak). Perbedaan kebudayaan menjadi cermin bagi bangsa lain, membuat perbedaan sistem, isi dan pendidikan pengajaran sekaligus menjadi cermin tingkat pendidikan dan kebudayaan.
Aspek-aspek pendidikan adalah arah tujuan atau sasaran yang diperhatikan dan dibina serta dijadikan pedoman dalam pelaksanaan segala aktivitas yang bersifat pendidikan yang sesuai. Adapun interaksi pendidikan dengan kebudayaan itu adalah,
1. Pendidikan adalah pembinaan tingkah laku perbuatan
Pendidikan merupakan proses pembinaan tingkah laku perbuatan agar anak belajar berpikir, berperasaan dan bertindak lebih sempurna dan baik dari pada sebelumnya. Untuk tujuan tersebut maka pendidikan diarahkan pada seluruh aspek pribadi meliputi jasmani, mental kerohanian dan moral. Sehingga akan tumbuh kesadaran pribadi dan bertanggung jawab akibat tingkat perbuatannya.
2. Pendidikan adalah pendidikan diri pribadi
Lembaga pendidikan bertujuan mengembangkan diri dan selalu menggunakan daya kemampuan inisiatif dan aktivitasnya sesuai kata hatinya. Sehingga anak berkesempatan untuk belajar memikul tanggung jawab bagi kelangusngan pendidikan dan perkembangan pribadinya. Hal ini sesuai pernyataan Tagore bahwa pendidikan sebenarnya pendidikan diri sendiri atau diri pribadi (self education).
3. Pendidikan diarahkan kepada keseluruhan aspek kebudayaan dan kepribadian
Pendidik dan lembaga pendidikan harus mengakui kepribadian dan menggalang adanya kesatuan segala aspek kebudayaan, di sini manusia membutuhkan latihan dalam menggunakan kecerdasanya dan saling pengertian. Aspek intelek menghasilkan manusia teoretis, sosial manusia pengabdi, estetis manusia seni, politik manusia kuasa, agama manusia kuasa dan ekonomi manusia serta sebagai tambahan aspek keluarga menjadikan manusia memiliki cinta kasih.
4. Pendidikan harus diarahkan kepembinaan cita-cita hidup yang luhur
Bila pendidikan dimasukkan ke dalam tingkah laku perbuatan manusia maka pendidikan harus menyesuaikan diri dengan tujuan hidup manusia, selanjutnya tujuan hidup tersebut ditentukan oleh filsafat hidup yang dianut seseorang, maka tujuan pendidikan manusia harus bersumber pada filsafat hidup individu yang melaksanakan pendidikan. Tujuan pendidikan manusia tidak dapat terlepas dari tujuan hidup manusia yang didasarkan pada filsafat hidup tertentu.
5. Pendidikan adalah sebuah proses dimana kebudayaan mengontrol orang dan membentuknya sesuai dengan tujuan kebudayaan. Sebagai alat yang digunakan masyarakat untuk melaksanakan kegiatanya dalam mencapai tujuan.

6. Berimplikasi pula pada pengawasan pendidikan yang ketat dari pemerintah untuk menjamin guru-guru menanamkan diri generasi muda tentang gagasan-gagasan, sikap-sikap, dan ketrampilan-ketrampilan yang perlu bagi kelanjutan kebudayaan.

7. Jika perilaku masyarakat ditentukan oleh kebudayaan, maka kurikulum sekarang yang merupakan salah satu instrumen dalam penddidkan harus dikembangakan atas kajian langsung dari kebudayaan sekarang dan masa depan.
Dalam merealisasikan pendidikan pada era otonomi daerah sekarang ini, sewajarnya pendidikan yang dilaksanakan memperhatikan aspek budaya, misalnya konsep life skill dalam pendidikan untuk peningkatan keterampilan siswa setelah menamatkan jenjang pendidikannya. Pendekatan budaya merupakan cara tepat dalam membina moralitas pendidikan bangsa yang mulai ambruk, hal ini karena budaya memuat berbagai aspek, seperti agama, etika dan lingkungan.
D. Pentingnya Peranan Pendidikan dalam Membentuk Manusia yang berbudaya
Pada dasarnya pendidikan tidak akan pernah bisa dilepaskan dari ruang lingkup kebudayaan. Kebudayaan merupakan hasil perolehan manusia selama menjalin interaksi kehidupan baik dengan lingkungan fisik maupun non fisik. Hasil perolehan tersebut berguna untuk meningkatkan kualitas hidup manusia.
Proses hubungan antar manusia dengan lingkungan luarnya telah mengkisahkan suatu rangkaian pembelajaran secara alamiah. Pada akhirnya proses tersebut mampu melahirkan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia. Disini kebudayaan dapat disimpulkan sebagai hasil pembelajaran manusia dengan alam. Alam telah mendidik manusia melalui situasi tertentu yang memicu akal budi manusia untuk mengelola keadaan menjadi sesuatu yang berguna bagi kehidupannya.
Dalam konteks hidupnya demi membentuk ketahanan hasil buah budi tersebut manusia melanjutkan dalam suatu tatanan simbol yang memberi arah bagi kehidupan. Sistem simbol ini menjadi rujukan utama bagi masyarakat pendukung dalam berpikir maupun bertindak. Proses selanjutnya yang terjadi adalah hubungan transformatif dan penguatan sistem simbol agar dapat diteruskan kepada anggota berikutnya.
Selain itu selama kehidupan berjalan unsur-unsur kebudayaan selalu berubah menyesuaikan perkembangan jaman. Dalam hal ini sistem simbol dengan sendirinya melakukan reaksi untuk mengintegrasikan perubahan atas unsur kebudayaan. Agen yang berfungsi sebagai transmitor produk budaya kepada anggota (khususnya generasi muda) adalah pendidikan.
Hal ini mengingat pendidikan itu tiada lain adalah wahana pembelajaran segala bentuk kemampuan bagi sang pembelajar agar menjadi manusia dewasa. Antara pendidikan dan kebudayaan terdapat hubungan yang sangat erat dalam arti keduanya berkenaan dengan suatu hal yang sama yakni nilai-nilai. Dalam konteks kebudayaan justru pendidikan memainkan peranan sebagai agen pengajaran nilai-nilai budaya. Dari paparan terakhir dapat ditangkap bahwa pada dasarnya pendidikan yang berlangsung adalah suatu proses pembentukan kualitas manusia sesuai dengan kodrat budaya yang dimiliki.

Fungsi pendidikan dalam konteks kebudayaan dapat dilihat dalam perkembangan kepribadian manusia. Tanpa kepribadian manusia tidak ada kebudayaan, meskipun kebudayaan bukanlah sekadar jumlah kepribadian-kepribadian. Para pakar antropologi, menunjuk kepada peranan individu bukan hanya sebagai bidakbidak di dalam papan catur kebudayaan. Individu adalah kreator dan sekaligus manipulator kebudayaannya. Di dalam hal ini studi kebudayaan mengemukakan pengertian “sebab-akibat sirkuler” yang berarti bahwa antara kepribadian dan kebudayaan terdapat suatu interaksi yang saling menguntungkan.
Di dalam perkembangan kepribadian diperlukan kebudayaan dan seterusnya kebudayaan akan dapat berkembang melalui kepribadian–kepribadian tersebut. Inilah yang disebut sebab-akibat sirkuler antara kepribadian dan kebudayaan. Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa pendidikan bukan semata-mata transmisi kebudayaan secara pasif tetapi perlu mengembangkan kepribadian yang kreatif. Pranata sosial yang disebut sekolah harus kondusif untuk dapat mengembangkan kepribadian yang kreatif tersebut.
Kebudayaan sebenarnya adalah istilah sosiologis untuk tingkah-laku yang bisa dipelajari. Dengan demikian tingkah laku manusia bukanlah diturunkan seperti tingkah-laku binatang tetapi yang harus dipelajari kembali berulang-ulang dari orang dewasa dalam suatu generasi. Di sini kita lihat betapa pentingnya peranan pendidikan dalam pembentukan kepribadian manusia.
Para pakar yang menaruh perhatian terhadap pendidikan dalam kebudayaan mula-mulanya muncul dari kaum behavioris dan psikoanalisis Para ahli psikologi behaviorisme melihat perilaku manusia sebagai suatu reaksi dari rangsangan dari sekitarnya. Di sinilah peran pendidikan di dalam pembentukan perilaku manusia. Begitu pula psikolog aliran psikoanalis menganggap perilaku manusia ditentukan oleh dorongan-dorongan yang sadar maupun tidak sadar ini ditentukan antara lain oleh kebudayaan di mana pribadi itu hidup.
Dewasa ini boleh dikatakan pendidikan telah diadopsi oleh semua negara, baik negara berkembang maupun negara maju, dijadikan sebagai pondasi untuk menghadapi perubahan-perubahan besar di dalam kehidupan masyarakat yang baru. Pendidikan telah dijadikan prioritas utama dari banyak negara untuk dijadikan sebagai pondasi membangun masyarakat yang lebih demokratis, terbuka bagi perubahan-perubahan global dan menghadapi masyarakat digital.
Dengan pendidikan bisa membentuk manusia yang berbudaya, artinya dalam kehidupannya manusia itu memiliki aturan-aturan atau norma yang menjadi panutan untuk kehidupannya, menjadikan manusia itu memiliki adab dan menjunjung tinggi budayanya, membentuk perilaku manusia yang lebih baik, menjadikan manusia yang berbudi luhur dan berakhlak mulia, menjadikan manusia mampu berpikir kreatif untuk kemajuan hidup dan dapat berinovasi untuk kemajuan perkembangan kebudayaan.
Maka, bisa dikatakan bahwa pendidikan dengan kebudayaan itu saling terkait satu sama lain, yaitu dengan pendidikan bisa membentuk manusia atau insan yang berbudaya, dan dengan budaya pula bisa menuntun manusia untuk hidup yang sesuai dengan aturan atau norma yang dijadikan sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan, agar segala sesuatunya itu tidak melanggar atau melenceng nilai-nilai baik dari segi moral maupun agama.

BAB II
PENUTUP

Kesimpulan

Pendidikan dan kebudayaan merupakan suatu hal yang saling berintegrasi, pendidikan selalu berubah sesuai perkembangan kebudayaan, karena pendidikan merupakan proses transfer kebudayaan dan sebagai cermin nilai-nilai kebudayaan (pendidikan bersifat reflektif). Pendidikan juga bersifat progresif, yaitu selalu mengalami perubahan perkembangan sesuai tuntutan perkembangan kebudayaan. Kedua sifat tersebut berkaitan erat dan terintegrasi. Untuk itu perlu pendidikan formal dan informal (sengaja diadakan atau tidak). Perbedaan kebudayaan menjadi cermin bagi bangsa lain, membuat perbedaan sistem, isi dan pendidikan pengajaran sekaligus menjadi cermin tingkat pendidikan dan kebudayaan.
Pendidikan dengan kebudayaan itu saling terkait, yaitu dengan pendidikan bisa membentuk manusia atau insan yang berbudaya, dan dengan budaya pula bisa menuntun manusia untuk hidup yang sesuai dengan aturan atau norma yang dijadikan sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan, agar segala sesuatunya itu tidak melanggar atau melenceng nilai-nilai baik dari segi moral maupun agama.

DAFTAR PUSTAKA
http://blog.unsri.ac.id/Bani/pengetahuan/dasar-teori-pendidikan/mrdetail/14616/
http://vandha.wordpress.com/2008/11/27/pendidikan-pengajaran-dan-kebudayaan pendidikan-sebagai-gejala-kebudayaan/
http://tentangkomputerkita.blogspot.com/2010/01/bab-2.html
http://mcdens13.wordpress.com/2010/03/28/pengertian-pendidikan-teori-pendidikan-perjalanan-kurikulum-pendidikan-nasional-sistem-pendidikan-islam-di-indonesia-reformasi-pendidikan-indonesia-pentingkah-inovasi-pendidikan-tingkatkan-kua/
http://www.uns.ac.id/data/sp8.pdf
http://id.wikipedia.org/wiki/Budaya

komunikasi efektif

May 21, 2011

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Aktivitas berkomunikasi selalu terjadi dalam kehidupan sehari-hari dengan tujuan untuk mewujudkan tata hubungan di masyarakat. Ini berarti bahwa tidak ada aktivitas tanpa ada komunikasi secara langsung maupun tidak langsung, verbal maupun nonverbal. Sejak manusia yang baru dilahirkan sudah ada interaksi dengan sekelilingnya, khusunya dengan kedua orangtua dan anggota keluarga lainnya. Makin bertambah usia manusia, makin luas pula hubungan yang dapat dijangkau oleh manusia tersebut. Manusia sebagai makhluk individu adalah sebagai makhluk sosial dan makhluk masyarakat sekelilingnya. Sehingga, kegiatan komunikasi merupakan suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia.
Kegiatan komunikasi sudah menjadi sebagian besar kegiatan tiap-tiap individu sehari-hari, mulai antar teman/pribadi, kelompok, organisasi atau massa. Dalam prosesnya berkomunikasi itu tidak bisa berjalan secara efektif atau sesuai dengan harapan kita, kalau lebih diteliti lagi banyak kegagalan dari komunikasi yang kita lakukan. Bisa jadi kegagalan itu disebabkan karena tujuan yang kita inginkan belum tercapai, adanya saling kesepahaman, belum bertambahnya informasi, serta kurang jelasnya penyampaian pesan. Maka dari itu perlulah diketahui bagaimana cara komunikasi yang efektif antar individu, baik oleh yang menyampaikan pesan maupun yang menerima pesan.
B. Rumusan masalah
A. Bagaimanakah dasar komunikasi?
B. Bagaimanakah komunikasi yang efektif itu?

C. Tujuan Penulisan

1. Memenuhi persyaratan nilai matakuliah Komanikasi Antar Pribadi
2. Memberi wawasan mengenai pentingnya komunikasi
3. Memberi wawasan mengenai cara berkomunikasi yang efektif
BAB II
PEMBAHASAN
A. Dasar Komunikasi

Arti komunikasi menurut Benny Kaluku, dalam bukunya ”Planning” komunikasi adalah proses penyampaian dan pengertian dan mengandung semua unsur prosedur yang dapat mempertemukan suatu pemikiran dengan pemikirannya lainnya. Menurut Keith Davis dalam bukunya ”Human Relation at work” komunikasi adalah proses jalur informasi dan pengertian dari seseorang ke orang lain. Dari definisi-definisi yang ada dapat disimpulkan bahwa komunikasi adalah pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua orang atau lebih dengan cara yang tepat, sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami, komunikasi dapat pula berarti hubungan atau kontak.
 Komponen-komponen dalam komunikasi yaitu,
1. Komunikator, yaitu pihak yang menyampaikan berita atau sumber berita, bisa perseorangan atau kelompok.
2. Komunikan, yaitu pihak yang menerima berita dan menerjemahkan lambang-lambang atau isyarat-isyarat.
3. Message, yaitu pesan berupa inti atau berita yang mengandung arti.
4. Transmit, yaitu menyampaikan, mengirimkan, menyebarkan atau meneruskan. Bentuk penyampaiannya bisa berupa tulisan, lisan, lambang-lambang, isyarat (menggunakan gerakan tubuh), dan suara.
5. Feed back, yaitu output yang dihasilkan berupa tanggapan atau respons yang berupa hasil dari pengaruh pesan yang telah disampaikan.
6. Media Komunikasi, yaitu alat yang digunakan untuk menyampaikan berita.

 Adapun fungsi-fungsi dari komunikasi yaitu,
1. Komunikasi sosial
Komunikasi itu penting untuk membangun konsep diri kita, aktualisasi diri, untuk kelangsungan hidup, untuk memperoleh kebahagiaan, terhindar dari tekanan dan ketegangan, antara lain lewat komunikasi yang bersifat menghibur dan memupuk hubungan dengan orang lain, melalui komunikasi kita dapat bekerja sama dengan anggota masyarakat.
2. Komunikasi Ekspresif
Komunikasi ekspresif tidak otomatis bertujuan mempengaruhi orang lain, namun dapat dilakukan sejauh komunikasi tersebut menjadi instrumen untuk menyampaikan perasaan-perasaaan (emosi) kita. Perasaan tersebut terutama dikomunikasikan melalui pesan-pesan nonverbal. Perasaan sayang, gembira, sedih, takut, khawatir, marah dapat disampaikan lewat kata-kata melainkan lewat perilaku nonverbal.
3. Komunikasi Ritual
Komunikasi yang biasanya dilakukan secara kolektif, sering juga bersifat ekspresif, menyatakan perasaan terdalam seseorang. Kegiatan ritual memungkinkan para pesertanya berbagi komitmen emosional dan menjadi perekat bagi kepaduan mereka, juga sebagai pengabdian kepada kelompok.
4. Komunikasi Instrumental
Memiliki tujuan menginformasikan, mengajar, mendorong, mengubah sikap dan keyakinan dan mengubah perilaku atau menggerakkan tindakan dan juga untuk menghibur. Komunikasi yang berfungsi memberitahukan mengandung muatan persuasif dalam arti bahwa pembicara menginginkan pendengarnya mempercayai bahwa fakta atau informasi yang disampaikannya akurat dan layak untuk diketahui.

 Proses komunikasi, yaitu tahapan-tahapan pertukaran informasi/pesan/berita dari pihak penyampaian berita kepihak penerima berita dengan menggunakan media dalam rangka mencapai tujuan yang diharapkan.

Pesan Encode Media Decode Pesan

Komunikator Hambatan Komunikan

Feed Back

– Pengirim pesan/komunikator adalah orang yang mempunyai ide untuk disampaikan kepada seseorang dengan harapan dapat dipahami oleh orang yang menerima pesan sesuai dengan yang dimaksudkannya.
– Pesan adalah informasi yang akan disampaikan atau diekspresikan oleh pengirim pesan. Pesan dapat verbal atau non verbal dan pesan akan efektif bila diorganisir secara baik dan jelas.
– Encode, proses penyampaian pesan.
– Media, alat yang digunakan untuk menyampaikan berita.
– Decode, proses penerimaan pesan
– Feed back, umpan balik atau tanggapan (dari komunikan terhadap pesan yang disampaikan).

 Hambatan dalam komunikasi
2) Kurang kecakapan berkomunikasi
3) Sikap kurang tepat
4) Pengetahuan yang kurang
5) Syakwasangka (prejudice) yang tak berdasar
6) Jarak Fisik (Komunikator dan komunikan terletak berjauhan)
7) Kesalahan bahasa
8) Trelalu banyak kata-kata (verbal) tanpa peragaan
9) Indera yang rusak
10) Komunikasi yang berlebihan
11) Komunikasi satu arah

 Hal-hal yang mempengaruhi komunikasi
a. Dilihat dari komunikator,
1. Kecakapan komunikator, yaitu komunikator menguasai cara-cara menyampaikan pesan baik secara lisan maupun secara tertulis.
2. Sikap komunikator, menyebabkan pendengar atau pembaca percaya terhadap uraian komunikator. Sikap ini harus bersumber pada hubungan-hubungan kemanusiaannya main lancarlah komunikasi itu.
3. Pengetahuan komunikator, komunikator yang kaya akan pengetahuan dan menguasai secara mendalam akan lebih mudah memberikan uraian-uraian. Oleh karena itu agar cakap berkomunikasi, seseorang perlu rajin membaca dan mencari pengalaman.
4. Sistem sosial, ada 2 macam sistem sosial yaitu sistem sosial yang bersifat formil (dalam organisasi) dan sistem sosial informil (susunan masyarakat biasa)
5. Saluran/alat tubuh dari komunikator, terutama dalam komunikasi lisan, suara yang besar dan jelas, ucapan yang jelas, lagak lagu yang baik akan menyebabkan bicaranya menarik. Bila ingin berhasil dalam komunikasi alat-alat tubuh kita harus baik pula terutama alat-alat indera dan alat bicara.
b. Dilihat dari komunikan
1. Kecakapan berkomunikasi komunikan, kecakapan ini terutama kecakapan mendengarkan dan membaca. Ia harus cakap memusatkan perhatian, harus cakap mengambil inti sari dari suatu pembicaraan, harus dapat membedakanmana pokok permasalahan dan mana yang hanya merupakan penjelasan-penjelasan saja, harus bersifat kritis, harus dapat menangkap banyak kata-kata secara sekaligus dan menafsirkannya secara tepat.
2. Sikap komunikan, hasil komunikasi dipengaruhi pula oleh sikap komunikan, kadang-kadang komunikan telah menaruh curuga terhadap pembicar atau terkadang telah bersikap apriori artinya telah menentukan kesimpulan sebelum ada data-data yang lengkap.
3. Pengetahuan komunikan, dengan pengetahuan yang banyak seorang pendengar dapat dengan cepat menangkap isi dari suatu pembicaraan atau suatu bacaan, karena ia mudah menafsirkan maksud dari pembicara/penulis.
4. Sistem sosial, artinya si pendengar harus memahami kedudukan apa-siapa si pembicara, bila ingin komunikasi menjadi lancar kita sebagai pendengar harus dapat menyesuaikan diri terhadap sistem sosial dari pihak pembicara.
5. Saluran komunikasi, bila pendengaran, penglihatan atau indera lainnya kurang sempurna maka komunikasi juga tidak akan sempurna.

B. Komunikasi yang Efektif

Komunikasi yang efektif adalah Komunikasi yang mampu menghasilkan perubahan sikap (attitude change) pada orang yang terlibat dalam komunikasi. Tujuan dari komunikasi yang efektif itu ialah memberi kemudahan dalam memahami pesan yang disampaikan antara pemberi dan penerima sehingga bahasa lebih jelas, lengkap, pengiriman dan umpan balik seimbang dan melatih penggunaan bahasa nonverbal secara baik.
Hal-hal yang sebagai penguat untuk membangun suatu komunikasi yang efektif yaitu :
1. Berusaha benar-benar mengerti orang lain (emphatetic communication)
2. Memenuhi komitmen atau janji
3. Menjelasakan harapan
4. Meminta maaf dengan tulus ketika membuat kesalahan
5. Memperlihatkan integritas pribadi yang kuat merupakan faktor utama
6. Adanya keterbukaan
7. Bersikap empati, adanya dukungan, adanya kesetaraan
8. Memiliki rasa yang positif

 Karakteristik Komunikasi yang efektif
1. Komunikasi verbal yang efektif
a. Vocabulary (perbendaharaan kata-kata). Komunikasi tidak akan efektif bila pesan disampaikan dengan kata-kata yang tidak dimengerti, karena itu olah kata menjadi penting dalam berkomunikasi.
b. Racing (kecepatan). Komunikasi akan lebih efektif dan sukses bila kecepatan bicara dapat diatur dengan baik, tidak terlalu cepat atau terlalu lambat.
c. Intonasi suara, akan mempengaruhi arti pesan secara dramatik sehingga pesan akan menjadi lain artinya bila diucapkan dengan intonasi suara yang berbeda. Intonasi suara yang tidak proposional merupakan hambatan dalam berkomunikasi.
d. Humor, dapat meningkatkan kehidupan yang bahagia. Bahwa dengan tertawa dapat membantu menghilangkan stress dan nyeri. Tertawa mempunyai hubungan fisik dan psikis dan harus diingat bahwa humor adalah merupakan satu-satunya selingan dalam berkomunikasi.
e. Singkat dan jelas, Komunikasi akan efektif bila disampaikan secara singkat dan jelas, langsung pada pokok permasalahannya sehingga lebih mudah dimengerti.
f. Timing (waktu yang tepat) adalah hal kritis yang perlu diperhatikan karena berkomunikasi akan berarti bila seseorang bersedia untuk berkomunikasi, artinya dapat menyediakan waktu untuk mendengar atau memperhatikan apa yang disampaikan.
2. Komunikasi nonverbal yang efektif
Komunikasi non verbal adalah penyampaian pesan tanpa kata-kata dan komunikasi non verbal memberikan arti pada komunikasi verbal. Yang termasuk komunikasi non verbal :
a. Ekspresi wajah, Wajah merupakan sumber yang kaya dengan komunikasi, karena ekspresi wajah cerminan suasana emosi seseorang.
b. Kontak mata, merupakan sinyal alamiah untuk berkomunikasi. Dengan mengadakan kontak mata selama berinterakasi atau tanya jawab berarti orang tersebut terlibat dan menghargai lawan bicaranya dengan kemauan untuk memperhatikan bukan sekedar mendengarkan. Melalui kontak mata juga memberikan kesempatan pada orang lain untuk mengobservasi yang lainnya.
c. Sentuhan adalah bentuk komunikasi personal mengingat sentuhan lebih bersifat spontan dari pada komunikasi verbal. Beberapa pesan seperti perhatian yang sungguh-sungguh, dukungan emosional, kasih sayang atau simpati dapat dilakukan melalui sentuhan.
d. Postur tubuh dan gaya berjalan. Cara seseorang berjalan, duduk, berdiri dan bergerak memperlihatkan ekspresi dirinya. Postur tubuh dan gaya berjalan merefleksikan emosi, konsep diri, dan tingkat kesehatannya.
e. Sound (Suara). Rintihan, menarik nafas panjang, tangisan juga salah satu ungkapan perasaan dan pikiran seseorang yang dapat dijadikan komunikasi.
Persepsi merupakan inti dari komunikasi, Persepsi didefinisikan sebagai interpretasi bermakna atas sensasi sebagai representatif obyek eksternal. Proses menafsirkan informasi indrawi. Persepsi disebut ini komunikasi, karena jika persepsi kita tidak akurat, tidak mungkin kita berkomunikasi dengan efektif. Persepsilah yang menentukan kita memilih suatu pesan dan mengabaikan pesan yang lain, dengan kata lain persepsi bersifat selektif. Semakin tinggi derajat kesamaanpersepsi antar individu, semakin mudah dan semakin sering mereka berkomunikasi.
Kemampuan mengembangkan komunikasi yang efektif merupakan salah satu keterampilan yang amat diperlukan untuk pengembangan diri kita. Paling tidak kita harus menguasai empat jenis keterampilan dasar dalam komunikasi, yaitu menulis, membaca (bahasa tulisan), mendengar, dan berbicara (bahasa lisan). Hampir setiap saat kita menghabiskan waktu untuk mengerjakan setidaknya salah satu dari keempat hal itu. Oleh karena itu, kemampuan untuk menguasai keterampilan dasar komunikasi dengan baik mutlak kita perlukan demi efektifitas dan keberhasilan kita.
1. Berbicara Efektif
 adanya prinsip motivasi, dalam berbicara agar pembicaraan dapat efektif hendaknya minat para pendengar dibangkitkan.
 Prinsip perhatian, pembicaraan akan berhasil bila pembicara dapat menarik perhatian para hadirin.
 Prinsip keinderaan, pembicaraan akan mudah ditangkap oleh para hadirin bila disajikan sedemikian rupa sehingga pendengaran, penglihatan, dan tangan hadirin dapat aktif.
 Prinsip pengertian, hal-hal yang dimengerti mudah dihafalkan atau mudah tertanam dalam pikiran seseorang.
 Prinsip ulangan, hal-hal yang diulang-ulang akan lebih meresap ke dalam jiwa sehingga mudah diingat kembali.
 Prinsip kegunaan, hal-hal yang dirasa ada gunanya akan tetap tinggal lama dalam ingatan seseorang.
2. Membaca Efektif
 Membaca merupakan mengerti atau memahami arti apa yang ditulis
 Adanya motivasi, agar dapat membaca dengan baik perlu membangkitkan minat
 Adanya pemusatan jiwa pada suatu hal (perhatian)
 Adanya keaktifan jasmani seperti menggaris bawahi kalimat-kalimat yang penting
 Mengulangi, apabila yang dibaca merupakan hal yang amat penting
3. Mendengarkan Efektif
 Mendengarkan merupakan pemusatan perhatian pada suara-suara yang sedang dibicarakan
 Adanya keaktifan mental pendengar ini ditandai dengan adanya kegiatan-kegiatan seperti berusaha mengambil makna pembicaraan, meringkas kalimat-kalimat pembicara
 Menitikberatkan pada menerima pesan bukan mengkritik, pendengar yang baik yaitu orang yang bersikap pertama-tama, menangkap pembicaraan dan yang kedua mengkritiknya bila da hal-hal yang pantas dikritik
 Dapat mengendalikan emosi
 Dapat dengan cepat menangkap ide-ide pokok
 Mampu berpikir dengan baik, pendengar yang baik setelah menangkap kata-kata di telinga langsung ditafsirkan dengan pikiran
Komunikasi merupakan keterampilan terpenting dalam hidup kita. Kita menghabiskan sebagian besar waktu kita untuk berkomunikasi. Kegiatan komunikasi pada prinsipnya adalah aktivitas pertukaran ide atau gagasan. Secara sederhana, kegiatan komunikasi dipahami sebagai kegiatan penyampaian dan penerimaan pesan atau ide dari satu pihak ke pihak lain, dengan tujuan untuk mencapai kesamaan pandangan atas ide yang dipertukarkan tersebut.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Kegiatan komunikasi merupakan suatu hal yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Karena dengan berkomunikasi dapat mempelajari atau mengajarkan sesuatu, mempengaruhi perilaku seseorang, mengungkapkan perasaan, menjelaskan perilaku sendiri atau perilaku orang lain, berhubungan dengan orang lain, menyelesaian sebuah masalah, mencapai sebuah tujuan, menurunkan ketegangan dan menyelesaian konflik.
Komunikasi itu bukan sesuatu yang mudah, karena itu berbagai upaya terus menerus harus kita lakukan untuk meningkatkan pengetahuan komunikasi kita dan ketrampilan kita berkomunikasi. Mestinya tidak ada kata berhenti dalam belajar, karena pengetahuan dan ketrampilan yang kita butuhkan harus selalu kita asah, agar senantiasa up-to-date dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan wacana.

DAFTAR PUSTAKA

Mulyana,Deddy. M.A., Ph.D. 2005. Ilmu Komunikasi. Bandung : Remaja Rosdakarya

Citrobroto, Suhartin. Drs. 1979. Prinsip-prinsip dan Teknik Berkomunikasi. Jakarta: Bhratara Karya Aksara

Suyetti dan Kurniawan, Gita. 2005. Bekerja Sama dengan Kolega dan Pelanggan. Jakarta: Yudhistira

psikologi perkembangan remaja

May 21, 2011

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Masa remaja merupakan masa transisi atau peralihan dari masa anak menuju masa dewasa. Pada masa ini individu mengalami berbagai perubahan, baik fisik maupun psikis. Perubahan yang tampak jelas adalah perubahan fisik, dimana tubuh berkembang pesat sehingga mencapai bentuk tubuh orang dewasa yang disertai pula orang dewasa. Pada periode ini pula remaja berubah secara kognitif dan mulai mampu berfikir abstrak seperti orang dewasa. Pada periode ini pula remaja mulai melepaskan diri secara emosional dari orang tua dalam rangka menjalankan peran sosialnya yang baru sebagai orang dewasa.

Selain perubahan yang terjadi dalam diri remaja, terdapat pula perubahan dalam lingkungan seperti sikap orang tua atau anggota keluarga lain, guru, teman sebaya, maupun masyarakat pada umumnya. Kondisi ini merupakan reaksi terhadap pertumbuhan remaja. Remaja dituntut untuk mampu menampilkan tingkah laku yang dianggap pantas atau sesuai bagi orang-orang seusianya. Adanya perubahan baik di dalam maupun di luar dirinya itu membuat kebutuhan remaja semakin meningkat terutama kebutuhan sosial dan kebutuhan remaja semakin meningkat terutama kebutuhan sosial dan kebutuhan psikologisnya. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut memperluas lingkungan sosial diluar lingkungan keluarga, seperti lingkungan teman sebaya dan lingkungan masyarakat lainnya.

Kita semua mengetahui bahwa antara anak-anak dan orang dewasa ada beberapa perbedaan yang selain bersifat bilogis atau fisiologis juga bersifat psikologis. Pada masa remaja perubahan-perubahan besar terjadi dalam kedua aspek tersebut, sehingga dapat dikatakan bahwa ciri umum yang menonjol pada masa remaja adalah berlangsungnya perubahan itu sendiri, yang dalam interaksinya dengan lingkungan sosial membawa berbagai dampak pada prilaku remaja.

Di Indonesia perkembangan remaja masih ada keterbatasannya. Di satu sisi walaupun ingin melepas dari orang tua namun pada kebanyakan remaja awal masih tinggal bersama orang tua. Selain itu juga secara ekonomik masih bergantung kepada orang tua. Mereka juga belum bisa kawin, secara budaya hubungan seksual tidak diperkenankan sesuai dengan norma agama dan sosial, meskipun mereka sudah bisa mengadakan kencan-kencan dengan teman lain jenis. Mereka berusaha mencapai kebebasan dalam berpacaran. Mereka mempunyai kecenderungan yang sama untuk menghayati kebebasan tadi sesuai dengan usia dan jenis kelaminnya. Hal ini berarti sebagai tanda kedewasaan, mereka mulai mengorbankan sebagian besar hubungan emosi mereka dengan orang tua mereka dalam usaha menjadi anggota kelompok teman sebaya.

B. Rumusan Masalah

A. Apakah pengertian Remaja?
B. Apakah yang menjadi kriteria/ ciri-ciri Remaja?
C. Bagaimanakah perkembangan sosial Remaja?
D. Bagaimanakah perkembangan emosional Remaja?
E. Bagaimanakah perkembangan kognitif Remaja?

C. Tujuan Penulisan

1. Memenuhi nilai persyaratan matakuliah Psikologi Perkembangan
2. Mengetahui siapakah remaja itu
3. Mengetahui aspek-aspek perubahan apa saja pada masa remaja
4. Memberi wawasan mengenai perkembangan aspek sosial, emosional, dan kognitif pada masa remaja

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Remaja

Menurut Hurlock (1981) remaja adalah mereka yang berada pada usia 12-18 tahun. Monks, dkk (2000) memberi batasan usia remaja adalah 12-21 tahun. Menurut Stanley Hall (dalam Santrock, 2003) usia remaja berada pada rentang 12-23 tahun. Berdasarkan batasan-batasan yang diberikan para ahli, bisa dilihat bahwa mulainya masa remaja relatif sama, tetapi berakhirnya masa remaja sangat bervariasi. Bahkan ada yang dikenal juga dengan istilah remaja yang diperpanjang, dan remaja yang diperpendek.
Remaja adalah masa yang penuh dengan permasalahan. Statemen ini sudah dikemukakan jauh pada masa lalu yaitu di awal abad ke-20 oleh Bapak Psikologi Remaja yaitu Stanley Hall. Pendapat Stanley Hall pada saat itu yaitu bahwa masa remaja merupakan masa badai dan tekanan (storm and stress) sampai sekarang masih banyak dikutip orang.
Menurut Erickson masa remaja adalah masa terjadinya krisis identitas atau pencarian identitas diri. Gagasan Erickson ini dikuatkan oleh James Marcia yang menemukan bahwa ada empat status identitas diri pada remaja yaitu identity diffusion/ confussion, moratorium, foreclosure, dan identity achieved. Karakteristik remaja yang sedang berproses untuk mencari identitas diri ini juga sering menimbulkan masalah pada diri remaja.
Masa Remaja, berlangsung antara umur 12 tahun sampai dengan 21 tahun bagi wanita dan 13 tahun sampai dengan 22 tahun bagi pria. Rentang usia remaja ini dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu usia 12/13 tahun sampai dengan 17/18 tahun adalah remaja awal, dan usia 17/18 tahun sampai dengan 21/22 tahun adalah remaja akhir. Menurut hukum dismenore Amerika Serikat saat ini, individu dianggap telah dewasa apabila telah mencapai usia 18 tahun dan bukan 21 tahun seperti ketentuan sebelumnya. Pada usia ini, umumnya anak sedang duduk di bangku sekolah menengah.
Remaja adalah masa peralihan diantara masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun perkembangan psikisnya. Mereka bukanlah anak-anak baik bentuk badan ataupun cara berfikir atau bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang.
Remaja sebetulnya tidak mempunyai tempat yang jelas. Mereka sudah tidak termasuk golongan anak-anak, tetapi belum juga dapat diterima secara penuh untuk masuk ke golongan orang dewasa. Remaja ada diantara anak dan orang dewasa. Oleh karena itu, remaja sering dikenal dengan fase ”mencari jati diri” atau fase ”topan dan badai”. Remaja masih belum mampu menguasai dan memfungsikan secara maksimal fungsi fisik maupun psikisnya.

Dapat disimpulkan bahwa masa remaja merupakan masa dimana seseorang atau manusia dalam proses menuju pencarian jati diri di masa awal kehidupan yang sebenarnya pada dirinya serta masa remaja merupakan masa yang sangat penting dalam pembentukan jati diri seseorang, oleh karenanya psikologi perkembangan remaja dapat dikatakan faktor yang sangat berperan di dalamnya.

B. Kriteria Remaja
Masa remaja mempunyai ciri tertentu yang membedakan dengan periode sebelumnya, Ciri-ciri remaja menurut Hurlock, antara lain :

a. Masa remaja sebagai periode yang penting yaitu perubahan-perubahan yang dialami masa remaja akan memberikan dampak langsung pada individu yang bersangkutan dan akan mempengaruhi perkembangan selanjutnya.
b. Masa remaja sebagai periode pelatihan. Disini berarti perkembangan masa kanak-kanak lagi dan belum dapat dianggap sebagai orang dewasa. Status remaja tidak jelas, keadaan ini memberi waktu padanya untuk mencoba gaya hidup yang berbeda dan menentukan pola perilaku, nilai dan sifat yang paling sesuai dengan dirinya.
c. Masa remaja sebagai periode perubahan, yaitu perubahan pada emosi perubahan tubuh, minat dan peran (menjadi dewasa yang mandiri), perubahan pada nilai-nilai yang dianut, serta keinginan akan kebebasan.
d. Masa remaja sebagai masa mencari identitas diri yang dicari remaja berupa usaha untuk menjelaskan siapa dirinya dan apa peranannya dalam masyarakat.
e. Masa remaja sebagai masa yang menimbulkan ketakutan. Dikatakan demikian karena sulit diatur, cenderung berperilaku yang kurang baik. Hal ini yang membuat banyak orang tua menjadi takut.
f. Masa remaja adalah masa yang tidak realistik. Remaja cenderung memandang kehidupan dari kacamata berwarna merah jambu, melihat dirinya sendiridan orang lain sebagaimana yang diinginkan dan bukan sebagaimana adanya terlebih dalam cita-cita.
g. Masa remaja sebagai masa dewasa. Remaja mengalami kebingungan atau kesulitan didalam usaha meninggalkan kebiasaan pada usia sebelumnya dan didalam memberikan kesan bahwa mereka hampir atau sudah dewasa, yaitu dengan merokok, minum-minuman keras, menggunakan obat-obatan dan terlibat dalam perilaku seks. Mereka menganggap bahwa perilaku ini akan memberikan citra yang mereka inginkan.

Disimpulkan adanya perubahan fisik maupun psikis pada diri remaja, kecenderungan remaja akan mengalami masalah dalam penyesuaian diri dengan lingkungan. Hal ini diharapkan agar remaja dapat menjalani tugas perkembangan dengan baik-baik dan penuh tanggung jawab.
Secara umum masa remaja dibagi menjadi tiga bagian, yaitu sebagai:
a. Masa remaja awal (12-15 tahun) Pada masa ini individu memulai meninggalkan peran sebagai individu yang unik dan tidak tergantung pada orang tua.
b. Masa remaja pertengahan (15-18 tahun) Masa ini ditandai dengan berkembangnya kemampuan berfikir yang baru.
c. Masa remaja akhir (19-22 tahun) Masa ini ditandai oleh persiapan akhir untuk memasuki peran-peran orang dewasa.

Masa remaja dikenal sebagai salah satu periode dalam rentang kehidupan manusia yang memiliki beberapa keunikan tersendiri. Keunikan tersebut bersumber dari kedudukan masa remaja sebagai periode transisional antara masa kanak-kanak dan masa dewasa. Kita semua mengetahui bahwa antara anak-anak dan orang dewasa ada beberapa perbedaan yang selain bersifat bilogis atau fisiologis juga bersifat psikologis.

Pada masa remaja perubahan-perubahan besar terjadi dalam kedua aspek tersebut, sehingga dapat dikatakan bahwa ciri umum yang menonjol pada masa remaja adalah berlangsungnya perubahan itu sendiri, yang dalam interaksinya dengan lingkungan sosial membawa berbagai dampak pada prilaku remaja.

Secara ringkas, proses perubahan tersebut dan interaksi antara beberapa aspek yang berubah selama masa remaja bisa diuraikan sebagai berikut:
a. perubahan fisik rangkaian perubahan yang paling jelas yang nampak dialami oleh remaja adalah perubahan biologis dan fisiologis yang berlangsung pada masa pubertas atau pada awal masa remaja, yaitu sekitar umur 11-15 tahun pada wanita dan 12-16 tahun pada pria.
b. perubahan emosionalitas akibat langsung dari perubahan fisik dan hormonal adalah perubahan dalam aspek emosionalitas pada remaja sebagai akibat dari perubahan fisik dan hormonal tadi dan juga pengaruh lingkungan yang terkait dengan perubahan badaniah tersebut.
c. Perubahan kognitif Semua perubahan fisik yang membawa implikasi perubahan emosional tersebut makin dirumitkan oleh fakta bahwa individu juga sedang mengalami perubahan kognitif. Perubahan dalam kemampuan berfikir ini diungkapkan oleh Piaget sebagai tahap terakhir yang disebut sebagai tahap formal operation dalam perkembangan kognitifnya.

Secara psikologis proses-proses dalam diri remaja semuanya telah mengalami perubahan, dan komponen-komponen fisik, fisiologis, emosional, dan kognitif sedang mengalami perubahan besar. Menurut John Hill, terdapat tiga komponen dasar dalam membahas periode remaja yaitu:

a. Perubahan pundamental remaja meliputi perubahan biologis, kognitif dan sosial. Ketiga perubahan ini bersifat unipersal.
b. Perubahan biologis menyangkut tampilan fisik (ciri-ciri secara primer dan sekunder).
c. Transisi Kognitif Perubahan dalam kemampuan berfikir, remaja telah memiliki kemampuan yang lebih baik dari anak dalam berfikir mengenai situasi secara hipotesis, memikirkan sesuatu yang belum terjadi tetapi akan terjadi.
d. Transisi Sosial Perubahan dalam status sosial membuat remaja mendapatkan peran-peran baru dan terikat pada kegiatan-kegiatan baru. Konteks dari remaja Perubahan yang fundamental remaja bersifat universal, namun akibatnya pada individu sangat bervariasi.
ciri-ciri khusus pada remaja, antara lain:
• Pertumbuhan Fisik yang sangat Cepat
• Emosinya tidak stabil
• Perkembangan Seksual sangat menonjol
• Cara berfikirnya bersifat kausalitas (hukum sebab akibat)
• Terikat erat dengan kelompoknya
Periodisasi perkembangan masa remaja
Pada umumnya masa remaja dapat dibagi dalam dua periode yaitu :
1. Periode masa puber usia 12-18 tahun
a) Masa pra pubertas yaitu peralihan dari masa kanak-kanak kemasa awal pubertas.
Cirinya :
• Anak mulai bersikap kritis
• Anak tidak suka diperlakukan seperti anak kecil lagi
2. Masa pubertas usia 14-16 tahun yaitu masa remaja awal
Cirinya :
• Mulai cemas dan bingung tentang perubahan fisiknya
• Memperhatikan penampilan
• Sikapnya tidak menentu/plin plan
• Suka berkelompok dengan teman sebaya dan senasib
• Mulai adanya mimpi basah
3. Masa akhir pubertas usia 17-18 tahun yaitu peralihan dari masa pubertas kemasa adolesen.
Cirinya :
• Pertumbuhan fisik sudah mulai matang tetapi kedewasaan psikologisnya belum tercapai sepenuhnya
• Proses kedewasaan jasmaniah pada remaja putri lebih awal dari remaja pria
4. Periode remaja adolesen usia 19-21 tahun (Merupakan masa akhir remaja)
Beberapa sifat penting pada masa ini adalah :
• Perhatiannya tertutup pada hal-hal realistis
• Mulai menyadari akan realita
• Sikapnya mulai jelas tentang hidup
• Mulai nampak bakat dan minatnya

C. Perkembangan Sosial Remaja
Santrock mengungkapkan bahwa pada transisi sosial remaja mengalami perubahan dalam hubungan individu dengan manusia lain yaitu dalam emosi, dalam kepribadian, dan dalam peran dari konteks sosial dalam perkembangan. Membantah orang tua, serangan agresif terhadap teman sebaya, perkembangan sikap asertif, kebahagiaan remaja dalam peristiwa tertentu serta peran gender dalam masyarakat merefleksikan peran proses sosial-emosional dalam perkembangan remaja. Dan juga disebutkan bahwa kemampuan remaja untuk memantau kognisi sosial mereka secara efektif merupakan petunjuk penting mengenai adanya kematangan dan kompetensi sosial mereka.
Perkembangan sosial anak telah dimulai sejak bayi, kemudian pada masa kanak-kanak dan selanjutnya pada masa remaja. Hubungan sosial anak pertama-tama masing sangat terbatas dengan orang tuanya dalam kehidupan keluarga, khususnya dengan ibu dan berkembang semakin meluas dengan anggota keluarga lain, teman bermain dan teman sejenis maupun lain jenis. Berikut ini akan dijelaskan mengenai hubungan remaja dengan teman sebaya dan orang tua:
1) Hubungan dengan Teman Sebaya
Menurut Santrock, teman sebaya (peers) adalah anak-anak atau remaja dengan tingkat usia atau tingkat kedewasaan yang sama. Jean Piaget dan Harry Stack Sullivan mengemukakan bahwa anak-anak dan remaja mulai belajar mengenai pola hubungan yang timbal balik dan setara dengan melalui interaksi dengan teman sebaya. Mereka juga belajar untuk mengamati dengan teliti minat dan pandangan teman sebaya dengan tujuan untuk memudahkan proses penyatuan dirinya ke dalam aktifitas teman sebaya yang sedang berlangsung. Sullivan beranggapan bahwa teman memainkan peran yang penting dalam membentuk kesejahteraan dan perkembangan anak dan remaja. Mengenai kesejahteraan, dia menyatakan bahwa semua orang memiliki sejumlah kebutuhan sosial dasar, juga termasuk kebutuhan kasih saying (ikatan yang aman), teman yang menyenangkan, penerimaan oleh lingkungan sosial, keakraban, dan hubungan seksual.
2) Hubungan dengan Orang Tua
Masa Remaja awal adalah suatu periode ketika konflik dengan orang tua meningkat melampaui tingkat masa anak-anak. Peningkatan ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor yaitu perubahan biologis pubertas, perubahan kognitif yang meliputi peningkatan idealism dan penalaran logis, perubahan sosial yang berfokus pada kemandirian dan identitas, perubahan kebijaksanaan pada orang tua, dan harapan-harapan yang dilanggar oleh pihak rang tua dan remaja.
Dapat disimpulkan bahwa banyak orang tua melihat remaja mereka berubah dari seorang anak yang selalu menjadi seseorang yang tidak mau menurut, melawan, dan menantang standar-standar orang tua. Bila ini terjadi, orang tua cenderung berusaha mengendalikan dengan keras dan memberi lebih banyak tekanan kepada remaja agar mentaati standar-standar orang tua.

Perkembangan sosial berarti perolehan kemampuan berprilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial. Menjadi orang yang mampu bersosialisasi (sozialed), memerlukan tiga proses. Dimana masing-masing proses tersebut terpisah dan sangat berbeda satu sama lain, tetapi saling berkaitan, sehingga kegagalan dalam satu proses akan menurunkan kadar sosialisasi individu. Menurut Hurlock tiga proses dalam perkembangan sosial adalah sebagai berikut:

1. Berperilaku dapat diterima secara sosial
Setiap kelompok sosial mempunyai standar bagi para anggotanya tentang prilaku yang dapat diterima. Untuk dapat bersosialisasi, seseorang tidak hanya harus mengetahui prilaku yang dapat diterima, tetapi mereka juga harus menyesuaikan prilakunya sehingga ia bisa diterima sebagain dari masyarakat atau lingkungan sosial tersebut.
2. Memainkan peran di lingkungan sosialnya.
Setiap kelompok sosial mempunyai pola kebiasaan yang telah ditentukan dengan seksama oleh para anggotanya dan setiap anggota dituntut untuk dapat memenuhi tuntutan yang diberikan kelompoknya.
3. Memiliki Sikap yang positif terhadap kelompok Sosialnya
Untuk dapat bersosialisasi dengan baik, seseorang harus menyukai orang yang menjadi kelompok dan aktifitas sosialnya. Jika seseorang disenangi berarti, ia berhasil dalam penyesuaian sosial dan diterima sebagai anggota kelompok sosial tempat mereka menggabungkan diri.

D. Perkembangan Emosional Remaja
Dalam literatur klasik psikologi, emosi merupakan reaksi (kejiwaan) yang muncul lantaran adanya stimulan. Emosi yang sangat fruktuatif (mudah berubah) terjadi pada masa remaja. Remaja sering tidak mampu memutuskan simpul-simpul ikatan emosional kanak-kanaknya dengan orang tua secara logis dan objektif. Dalam usaha itu mereka kadang-kadang harus menentang, berdebat, bertarung pendapat dan mengkritik dengan pedas sikap-sikap orang tua. Meskipun hal ini sulit dilakukan namun dalam upaya pencapaian kemandirian yang optimal terhadap diri remaja maka upaya tersebut harus ditempuh.
Bagi remaja, tuntutan untuk memperoleh kemandirian secara emosional merupakan dorongan internal dalam mencari jati diri, bebas dari perintah-perintah dan kontrol orang tua. Remaja menginginkan kebebasan pribadi untuk dapat mengatur dirinya sendiri tanpa bergantung secara emosional pada orang tuanya. Bila remaja mengalami kekecewaan, kesedihan atau ketakutan, mereka ingin dapat mengatasi sendiri masalah-masalah yang dihadapinya. Meskipun remaja dapat mendiskusikan masalah-masalahnya dengan ayah atau ibunya, tetapi mereka ingin memperoleh kemandirian secara emosional dengan mengatasi sendiri masalah-masalahnya dan ingin memperoleh status yang menyatakan bahwa dirinya sudah dewasa.
Emosi adalah pengalaman afektif yang disertai penyesuaian dari dalam diri individu tentang keadaan mental dan fisik yang berwujud suatu tingkah laku yang tampak. Pola emosi masa remaja sama dengan pola emosi masa kanak-kanak. Jenis yang secara normal dialami adalah : cinta atau kasih sayang, gembira, amarah, takut, sedih dan lainnya lagi. Perbedaannya terletak pada macam dan derajat rangsangan yang membangkitkan emosinya dan khususnya pola pengendalian yang dilakukan individu terhadap ungkapan emosi mereka.

Biehler (1972) membagi ciri-ciri emosional remaja menjadi dua rentang usia, yaitu usia 12-15 tahun dan usia 15-18 tahun.
• Ciri-ciri emosional usia 12-15 tahun
1. Cenderung banyak murung dan tidak dapat diterka
2. Bertingkah laku kasar untuk menutupi kekurangan dalam hal rasa percaya diri
3. Kemarahan biasa terjadi
4. Cenderung tidak toleran terhadap orang lain dan ingin selalu menang sendiri
5. Mulai mengamati orang tua dan guru-guru mereka secara objektif

• Ciri-ciri emosional remaja usia 15-18 tahun
1. “Pemberontakan” remaja merupakan ekspresi dari perubahan yang universal dari masa kanak-kanak menuju dewasa
2. Banyak remaja mengalami konflik dengan orang tua mereka
3. Sering kali melamun, memikirkan masa depan mereka
Perkembangan emosi pada remaja ditandai dengan emosi yang tidak stabil dan penuh gejolak. Pada masa ini mood (suasana hati) bisa berubah dengan sangat cepat. Remaja rata-rata memerlukan hanya 45 menit untuk berubah dari mood “senang luar biasa” ke “sedih luar biasa”, sementara orang dewasa memerlukan beberapa jam untuk hal yang sama. Perubahan emosi ini erat kaitannya dengan kemasakan hormon yang terjadi pada remaja. Stres emosional yang timbul berasal dari perubahan fisik yang cepat dan luas yang terjadi sewaktu pubertas.
Dengan meningkatnya usia anak, semua emosi diekspresikan secara lunak karena mereka telah mempelajari reaksi orang lain terhadap luapan emosi yang berlebihan, sekalipun emosi itu berupa kegembiraan atau emosi yang menyenangkan lainnya. Adapun karena anak-anak mengekang sebagian ekspresi emosi mereka, emosi tersebut cenderung berahan lebih lama daripada jika emosi itu diekspresikan secara lebih terbuka. Oleh kerena itu, ekspresi emosional mereka menjadi berbeda-beda.
Dan perbedaan itu sebagian disebabkan oleh keadaan fisik anak pada saat itu dan taraf kemampuan intelektualnya. Anak yang sehat cenderung kurang emosional dibandingkan dengan anak yang kurang sehat. Jika dilihat sebagai anggota suatu kelompok, anak-anak yang pandai bereaksi lebih emosional terhadap berbagai macam rangsangan dibandingkan dengan anak yang kurang pandai bereaksi. Tetapi sebaliknya mereka lebih dapat mampu mengendalikan emosi.
E. Perkembangan Kognitif Remaja
1. Tahap Perkembangan Kognitif Remaja
Perkembangan kognitif remaja membahas tentang perkembangan remaja dalam berfikir (proses kognisi/proses mengetahui ). Menurut J.J. Piaget, remaja berada pada tahap operasi formal, yaitu tahap berfikir yang dicirikan dengan kemampuan berfikir secara hipotetis, logis, abstrak, dan ilmiah. Pada usia remaja, operasi-operasi berpikir tidak lagi terbatas pada obyek-obyek konkrit seperti usia sebelumnya, tetapi dapat pula dilakukan pada proposisi verbal (yang bersifat abstrak) dan kondisi hipotetik (yang bersifat abstrak dan logis).
2. Kemampuan Kognitif Remaja
Berbagai penelitian selama dua puluh tahun terakhir dengan menggunakan berbagai pandangan teori juga menemukan gambaran yang konsisten dengan teori Piaget yang menyimpulkan bahwa remaja merupakan suatu periode dimana seseorang mulai berfikir secara abstrak dan logik. Berbagai penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang konsisten antara kemampuan kognitif anak-anak dan remaja. Dibandingkan anak-anak, remaja memiliki kemampuan lebih baik dalam berfikir hipotetis dan logis. Remaja juga lebih mampu memikirkan beberapa hal sekaligus bukan hanya satu, dalam satu saat dan konsep-konsep abstrak, remaja juga dapat berfikir tentang proses berfikirnya sendiri, serta dapat memikirkan hal-hal yang tidak nyata, sebagaimana hal-hal yang nyata untuk menyusun hipotesa atau dugaan.
Menurut Piaget, pemikiran operasional formal berlangsung antara usia 11 sampai 15 tahun. Pemikiran operasional formal lebih abstrak, idealis, dan logis daripada pemikiran operasional konkret. Piaget menekankan bahwa bahwa remaja terdorong untuk memahami dunianya karena tindakan yang dilakukannya penyesuaian diri biologis. Secara lebih lebih nyata mereka mengaitkan suatu gagasan dengan gagasan lain. Mereka bukan hanya mengorganisasikan pengamatan dan pengalaman akan tetapi juga menyesuaikan cara berfikir mereka untuk menyertakan gagasan baru karena informasi tambahan membuat pemahaman lebih mendalam.
Secara lebih nyata pemikiran opersional formal bersifat lebih abstrak, idealistis dan logis. Remaja berpikir lebih abstrak dibandingkan dengan anak-anak misalnya dapat menyelesaikan persamaan aljabar abstrak. Remaja juga lebih idealistis dalam berpikir seperti memikirkan karakteristik ideal dari diri sendiri, orang lain dan dunia. Remaja berfikir secara logis yang mulai berpikir seperti ilmuwan, menyusun berbagai rencana untuk memecahkan masalah dan secara sistematis menguji cara pemecahan yang terpikirkan. Dalam perkembangan kognitif, remaja tidak terlepas dari lingkungan sosial. Hal ini menekankan pentingnya interaksi sosial dan budaya dalam perkembangan kognitif remaja.

BAB III
PENUTUP

Kesimpulan
Remaja adalah masa peralihan diantara masa kanak-kanak dan dewasa. Dalam masa ini anak mengalami masa pertumbuhan dan masa perkembangan fisiknya maupun perkembangan psikisnya. Mereka bukanlah anak-anak baik bentuk badan ataupun cara berfikir atau bertindak, tetapi bukan pula orang dewasa yang telah matang.
Salah satu ciri-ciri remaja adalah berkurangnya egoisme, sebaliknya tumbuh perasaan saling memiliki. Salah atu tanda yang khas adalah tumbuh kemampuan untuk mencintai orang lain dan alam sekitarnya. Kemampuan untuk menenggang rasa dengan orang yang dicintainya, untuk ikut merasakan penderitaan yang dialami oleh orang yang dicintainya. Ciri lainnya adalah berkembangnya “ego ideal” berupa cita-cita, idola dan sebagainya yang menggambarkan bagaimana wujud ego (diri sendiri) di masa depan.
Perkembangan sosial pada masa remaja (pubertas) merupakan masa yang unik, masa pencarian identitas diri dan ditandai dengan perkembangan fisik dan psikis anak. Pada masa ini sosialisasi anak lebih luas dan berkembang, mereka mulai menjalin hubungan dengan teman-teman laki-lakinya dan mengadakan kencan-kencan (dating).
Remaja berpikir lebih abstrak dibandingkan dengan anak-anak misalnya dapat menyelesaikan persamaan aljabar abstrak. Remaja juga lebih idealistis dalam berpikir seperti memikirkan karakteristik ideal dari diri sendiri, orang lain dan dunia.
Perkembangan emosi pada remaja ditandai dengan emosi yang tidak stabil dan penuh gejolak. Pada masa ini mood (suasana hati) bisa berubah dengan sangat cepat. remaja rata-rata memerlukan hanya 45 menit untuk berubah dari mood “senang luar biasa” ke “sedih luar biasa”, sementara orang dewasa memerlukan beberapa jam untuk hal yang sama. Perubahan emosi ini erat kaitannya dengan kemasakan hormon yang terjadi pada remaja.
DAFTAR PUSTAKA
Hurlock, Elizabeth, B.,. 2006. Psikologi Perkembangan, Jakarta: Erlangga
Sarwono, Sarlito W. 1991. Psikologi Remaja. Jakarta : Rajawali Press
Gunarsa, Singgih. 1990. Dasar & Teori Perkembangan Anak. Jakarta : PT BPK Gunung mulia
Hurlock, B. 1990. Perkembangan Anak. Jakarta : Erlangga
http://arfinurul.blog.uns.ac.id/2010/05/10/perkembangan-emosi-pada-remaja/
http://psikonseling.blogspot.com/2009/03/psikologi-perkembangan-pada-remaja.html

sensasi psikologi

May 21, 2011

BAB I
PENDAHULUAN

Setiap informasi akan diberi makna yang berlainan oleh orang yang berbeda. Proses penerimaan dan pengolahan informasi yang terjadi dalam diri manusia dikenal sebagai komunikasi intrapersonal. Dalam proses penerimaan informasi, alat indera merupakan faktor yang menentukan, karena setiap stimuli yang datang dari luar diri kita ditangkap melalui alat indera. Proses menangkap stimuli melalui alat indera ini disebut proses sensasi. Sensasi ini terjadi disebabkan oleh faktor-faktor personal seperti kapasitas alat indera, perbedaan pengalaman, lingkungan budaya dan faktor luar (situasional) yaitu stimulus yang datang ke alat indera kita.

Melalui alat inderalah manusia memperoleh pengetahuan dan semua kemampuan untuk berinteraksi dengan dunianya. Tanpa alat indera manusia tidak dengan sempurna dalam menjalani kehidupan ini. Di samping alat indera sebagai penerima stimulus harus di bantu oleh kemampuan otak untuk mengolah segala rangsangan yang diterima.

Dalam kehidupan sensasi sangat penting, agar manusia mampu untuk belajar memanfaatkan banyaknya potensi, termasuk potensi untuk mengembangkan diri dalam berhubungan atau berkomunikasi dengan yang lain dan lingkungan dimana ia berada. Serta dapat menilai mana sesuatu yang baik dan sesuatu yang buruk.

Dengan sensasi/ alat penginderaan yang dimilikinya manusia bisa lebih optimal dalam menjalankan hidupnya. Dengan memiliki penglihatan ia bisa melihat keindahan maupun kejelekan yang ada pada lingkungan sekitarnya, dengan pendengaran ia bisa mengetahui tentang suatu berita terkini yang ada di lingkungannya maupun di luar lingkungannya, dengan perabaan ia bisa merasakan kasar atau halusnya suatu benda, dengan pengecapan ia bisa merasakan enak atau tidaknya suatu makanan atau minuman, dan dengan penciuman ia bisa membedakan mana yang wangi dan mana yang tidak wangi.

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian Sensasi

Sensasi pada dasarnya merupakan tahap awal dalam penerimaan informasi. Sensasi, atau dalam bahasa inggrisnya sensation, berasal dari kata latin, sensatus, yang artinya dianugerahi dengan indra, atau intelek. Secara lebih luas, sensasi dapat diartikan sebagai aspek kesadaran yang paling sederhana yang dihasilkan oleh indra kita, seperti temperatur tinggi, warna hijau, rasa nikmatnya sebatang coklat. Sebuah sensasi dipandang sebagai kandungan atau objek kesadaran puncak yang privat dan spontan.

Menurut Benyamin B. Wolman (1973, dalam Rakmat, 1994) menyebut sensasi sebagai ”pengalaman elementer yang segera, yang tidak memerlukan penguraian verbal, simbolis, atau konseptual, dan terutama sekali berhubungan dengan kegiatan alat indra”. Apa pun definisi sensasi, fungsi alat indera dalam menerima informasi dari lingkungan sangat penting. Melalui alat indera, manusia dapat memahami kualitas fisik lingkungannya. Lebih dari itu dengan alat inderalah, manusia memperoleh pengetahuan dan semua kemampuan untuk berinteraksi dengan dunianya. Sensasi sering dibedakan dari persepsi, yang melibatkan penilaian, inferensi, interpretasi, bias, atau prakonseptualisasi, sehingga bisa salah. Sensasi dipandang sebagai pasti, ditentukan secara mendasar, fakta kasar. Menurut beberapa pendapat, sensasi lebih berkonotasi pada sebuah hubungan dengan perasaan (tetapi bukan emosi), sedangkan persepsi lebih berhubungan dengan kognisi. Sensasi sering digunakan secara sinonim dengan kesan inderawi, sense datum, sensum, dan sensibilium. Misalnya meja yang terasa kasar, yang berarti sebuah sensasi dari rabaan terhadap meja.
Dalam proses penerimaan informasi, alat indera merupakan faktor yang menentukan, karena setiap stimuli yang datang dari luar diri kita ditangkap melalui alat indera. Proses menangkap stimuli melalui alat indera ini disebut proses sensasi.
Dalam ungkapan lain sensasi ialah penerimaan stimulus lewat alat indra, sedangkan persepsi adalah menafsirkan stimulus yang telah ada di dalam otak” (Mahmud, 1990:14). Meskipun alat untuk menerima stimulus serupa pada setiap individu, interpretasinya berbeda. Kita mengenal lima alat indera atau pancaindera. Kita mengelompokannya pada tiga macam indera penerima, sesuai dengan sumber informasi. Sumber informasi boleh berasal dari dunia luar (eksternal) atau dari dalam diri (internal). Informasi dari luar diindera oleh eksteroseptor (misalnya, telinga atau mata). Informasi dari dalam diinderai oleh ineroseptor (misalnya, system peredaran darah). Gerakan tubuh kita sendiri diinderai oleh propriseptor (misalnya, organ vestibular).

Jadi, sensasi merupakan penerimaan stimulus (rangsangan) melalui indera, dan sensasi lebih cenderung hubungannya dengan perasaan. Dan alat penginderaan itulah yang menghubungkan organisme dengan lingkungannya. Sensasi itu sebagai proses atau pengalaman elementer yang timbul apabila satu perangsang merangsang satu reseptor atau proses merasakan.

B. Macam-macam sensasi

1. Sensasi Penglihatan

Alat penginderaannya yaitu mata, dengan melalui penglihatan individu bisa melihat keindahan atau kejelekan di lingkungannya, serta mata adalah salah satu instrumen manusia untuk menerima informasi pada tahap awal dan mata adalah jendela yang menghubungkan manusia dengan dunia. Misalnya, melihat seseorang yang cantik atau ganteng, melihat rambu-rambu lalu lintas dan sebagainya.

2. Sensasi Pendengaran

Sensasi auditori didapatkan dari indera pendengaran yaitu telinga. Pendengaran adalah kemampuan untuk mengenali suara pada manusia dan binatang bertulang belakang, hal ini dilakukan terutama oleh sistem pendengaran yang terdiri dari telinga, syaraf-syaraf, dan otak. Melalui indera pendengaran ini kita bisa membedakan suara-suara yang keras, lemah dan lembut dari suatu dialog percakapan, atau mendengarkan nada-nada musik yang indah. Indra yang digunakan untuk mendengarkan adalah telinga yang akan terstimulasi oleh adanya gelombang suara.

Ada tiga bagian utama dari telinga manusia, yaitu bagian telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam. Telinga luar berfungsi sebagai pengumpul suara yang kemudian di salurkan ke telingat tengah melalui lubang auditori. Di telinga tengah ini terdapat gendang telinga yang fungsinya untuk mengubah suara menjadi getaran yang kemudian disalurkan oleh tulang martil,landasan dan sanggurdi ke telinga bagian dalam. Telinga dalam terdiri dari koklea, saluran separuh bulat dan saraf auditori yaitu saraf pendengaran yang menghantarkan getaran atau pesan pendengaran dari koklea ke otak untuk ditafsirkan. Di otak pula, terdapat pusat pendengaran yang akan memproses getaran-getaran yang sampai dan getaran ini akan ditafsirkan sebagai pendengaran. Disebabkan hal inilah, kita dapat menikmati sensasi pendengaran. Contohnya yaitu mendengarkan berita tentang peperangangan ataupun perdamaian, mendengarkan musik pada saat sedang bosan, mendengarkan suara-suara seperti ambulance dan sebagainya.

3. Sensasi Perabaan
Alat penginderaannya yaitu kulit, dengan alat perabaan inilah kita bisa merasakan permukaan benda yang halus atau yang kasar, basah mauun kering. Dengan perabaan ini pula kita dapat merasakan rasa sakit apabila tersentuh benda tajam atau kasar. Contoh dari perabaan ini yaitu lembutnya pada saat menyentuh selimut dan kasarnya pada saat berjalan di bebatuan dan sebagainya.

4. Sensasi Pengecapan
Alat penginderaannya yaitu lidah, Lidah merupakan bagian tubuh penting untuk indra pengecap yang terdapat kemoreseptor (bagian yang berfungsi untuk menangkap rangsangan kimia yang larut pada air) untuk merasakan respon rasa asin, asam, pahit dan rasa manis. Tiap rasa pada zat yang masuk ke dalam rongga mulut akan direspon oleh lidah di tempat yang berbeda-beda. Letaknya yaitu pada :
1. Rasa Asin = Lidah Bagian Depan
2. Rasa Manis = Lidah Bagian Tepi
3. Rasa Asam = Lidah Bagian Samping
4. Rasa Pahit = Lidah Bagian Belakang
Contohnya yaitu kita dapat merasakan enaknya masakan ibu kita, pahitnya buah pare/kopi, manisnya gula, asamnya cuka, asinnya garam. Dan apabila itu semua dapat kita rasakan maka kita akan bisa membedakan mana makanan yang tidak enak dan makanan yang enak.

5. Sensasi Penciuman
Alat penginderaannya yaitu hidung, dengan alat penciuman itu kita dapat membedakan mana yang wangi dan mana yang bau. Misalnya ketika seseorang memakai parfum akan tercium wanginya, tapi ketika mobil sampah lewat maka akan tercium/menyengatnya bau yang tidak sedap seperti bau busuk.

C. Syarat-syarat Sensasi

a. Adanya objek yang di amati atau kekuatan stimulus
objek menimbulkan stimulus yang mengenai indera (reseptor) sehingga terjadi sensasi. Untuk bisa diterima oleh indera diperlukan kekuatan stimulus yang disebut sebagai ambang mutlak (absolute threshold).

b. Kepastian alat indera (reseptor) yang cukup baik serta syaraf (sensoris) yang baik
sebagai penerus kepada pusat otak (kesadaran) untuk menghasilkan respon.

c. Pengalaman dan lingkungan budaya
pengalaman dan budaya mempengaruhi kapasitas alat indera yang mempengaruhi
sensasi.

D. Proses Sensasi
Sensasi merupakan proses penerimaan rangsang oleh alat indera/penginderaan yang belum diberi makna. Proses sensasi yaitu S-O-RS = Stimulus-Organisme-Respons, adapun prosesnya yaitu :
a. Proses fisik : stimulus mengenai alat indera atau reseptor disebut
sebagai proses kealaman.

b. Proses fisiologis : stimulus yang mengenai alat indera diteruskan oleh syaraf
sensoris ke otak.

c. Proses psikologis : proses di otak yang menyebabkan organisme mampu
menyadari apa yang diterima dengan inderanya. Ini
merupakan proses terakhir dari sensasi dan merupakan
pengamatan atau sensasi yang sebenarnya.

E. Faktor-faktor yang mempengaruhi Sensasi

1. Faktor Eksternal

Kuat lemahnya stimulus distraksi dari lingkungan, jarak stimulus terhadap alat indera, dan durasi stimulus. Stimulus yang berasal dari luar apakah sangat signifikan untuk diterima oleh syaraf dan otak. Misalnya alat pendengaran, jika kita mendengar sesuatu yang suaranya agak jauh apakah kita msih bisa mendengarnya dengan jelas atau samar-samar. Lalu lamanya rangsangan itu, misalnya alat penglihatan, jika kita melihat seseorang yang cantik/ganteng yang sedang berjalan di kerumunan orang banyak apakah kita bisa melihatnya secara jelas atau tidak. Dan inilah yang merupakan faktor dari luar yang dapat mempengaruhi sensasi yang di inderai.

2. Faktor Internal

Kondisi alat indera, apakah alat indera itu masih berfungsi dengan baik atau tidak dalam menerima stimulus atau rangsangan. Lalu kondisi syaraf dan otak, apakah masih berfungsi secara aktif untuk menerima stimulus yang datangnya dari luar serta dapat di olah secara baik sehingga mendapatkan respons yang baik. Faktor internal lebih kepada kefungsian alat indera kita sendiri. Jika alat indera kita masih baik maka dalam menerima rangsangan akan lebih efektif lagi, dan tidak timbul keragu-raguan sehingga dapat sinkron dengan alat pengolahan yaitu syaraf dan otak.

F. Pengaruh sensasi pada tingkah laku

1. Sensasi Penglihatan
Pengaruhnya sangat jelas sekali dalam tingkah laku kita, yaitu dengan sensasi penglihatan ini kita dapat melihat segala sesuatu yang berada di lingkungan sekitar kita, serta melihat situasi dan kondisi yang terjadi pada saat ini. Dengan kita mengetahui apa saja yang terjadi, itu akan membuat kita bertindak dalam suatu hal. Misalnya, orang yang melakukan perjudian, tindakan prostitusi dan sebagainya yang menjurus pada hal negatif, dengan kita melihat serta kemampuan kognisi kita saling berpadu, bahwa itu merupakan perbuatan yang tidak baik maka kita tidak akan melakukan atau mengikuti hal tersebut.

2. Sensasi Pendengaran
Jika alat pendengaran kita baik, maka apa yang akan kita lakukan akan baik pula. Misalnya, ada seorang murid yang bisa dibilang murid yang nakal, pada saat ia di nasehati oleh guru dan orang tuanya ia berubah menjadi lebih baik hal itu pula dipengaruhi oleh pola pikirnya.

3. Sensasi Perabaan
Sensasi perabaan ini, bisa berpengaruh pada tingkah laku misalnya jika kita di cubit/di pukul oleh orang lain tanpa sebab dan terasa sakit maka kita akan membalasnya dan menghindar darinya.

4. Sensasi Pengecapan
Sensasi pengecapan dapat mempengaruhi tingkah laku, misalnya jika seseorang memasak masakan untuk kita dan masakan itu terasa enak maka kita akan memujinya dan sangat lahap dalam memakannya. Akan tetapi jika makanan itu terasa tidak enak maka kita akan komplain dan tidak mau memakannya.

5. Sensasi Penciuman
Jika kita mencium sesuatu yang bau maka kita akan menutup hidung, bisa jadi mual ingin muntah. Lain hal lagi jika seseorang tercium bau badan maka kita tidak ingin dekat dengannya. Namun jika orang itu wangi kita akan senang untuk mendekatinya atau bermain dengannya.
BAB III
KESIMPULAN
Sensasi merupakan tahap awal dalam penerimaan informasi. Sensasi meliputi 5 macam alat penginderaan yaitu :
1. Sensasi Penglihatan (oleh mata)
2. Sensasi Pendengaran (oleh telinga)
3. Sensasi Penciuman (oleh hidung)
4. Sensasi Pengecapan (oleh lidah)
5. Sensasi Perabaan (oleh kulit)
Dalam proses penerimaan informasi, alat indera merupakan faktor yang menentukan, karena setiap stimulus yang datang dari luar diri kita ditangkap melalui alat indera. Agar proses penerimaan ini baik terdapat beberapa syarat yaitu :
a. Adanya objek yang di amati atau kekuatan stimulus
b. Kepastian alat indera (reseptor) yang cukup baik serta syaraf (sensoris) yang baik
c. Pengalaman dan lingkungan budaya

Setiap individu dalam proses pengolahan informasi berbeda satu sama lainnya, hal ini karena kemampuan kognitif (kemampuan berpikir) serta afektifnya berbeda. Dalam psikologi stimulus yang datang dari luar yang diterima oleh organisme seseorang yang berbeda maka dalam mengrespon / menanggapinya pun berbeda seperti halnya dalam proses sensasi yaitu S-O-RS, Stimulus-Organisme-Respons. Tidak selamanya proses sensasi itu berjalan mulus, dalam faktanya ada saja faktor-faktor yang dapat mempengaruhinya. Faktor itu bisa saja dari luar maupun dari dalam diri kita, kalu dari luar misalnya jarak stimulus dengan alat indera kita ataupun lamanya stimulus untuk kita respons. Kalau dari dalam diri kita yaitu sebaik apa keberfungsian alat indera kita untuk menerima stimulus itu dan sejauh mana untuk kognitif kita dalam merespons stimulus itu.

Selain itu, sensasi dapat pula berpengaruh terhadap tingkah laku kita. Dengan merespons stimulus yang ada membuat kita akan melakukan atau bertindak sesuatu hal. Untuk bertindak itu pula kita akan dipengaruhi oleh kemampuan kognitif serta kepekaan perasaan kita tentang sesuatu hal. Maka dari itu sensasi, kemampuan kognitif, serta perasaan saling terkait dan saling berpadu dalam penerapannya di kehidupan sehari-hari.
DAFTAR PUSTAKA

http://psikologi.or.id/tag/sensasi
http://kuliahkomunikasi.com/2008/06/sensasi
http://rumahbelajarpsikologi.com/index.php
http://blogs.unpad.ac.id/nadiasabrina/
http://wiki.feureau.com.wiki/praktikum_psikologi

Hello world!

May 21, 2011

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.